Di lereng Gunung Sindoro yang hijau, udara pagi biasanya membawa semangat baru bagi para petani. Namun, beberapa pekan terakhir, semangat itu mulai meredup. Bukan karena gagal panen, melainkan karena akses jalan penghubung antar dusun yang menjadi urat nadi kehidupan mereka, rusak parah diterjang longsor dan hujan deras. Jalan yang dulu bisa dilalui mobil angkutan hasil bumi, kini berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan langkah kaki maupun roda. Warga, terutama petani sayur dan tembakau, merasakan dampaknya langsung: hasil panen terlambat sampai ke pasar, harganya anjlok, dan sebagian bahkan rusak di perjalanan.
Pak Dandim Turun Gunung, Mendengar Keluh Kesah Warga
Menyikapi keluhan yang terus mengalir, Komandan Kodim setempat tak tinggal diam. Pada Sabtu, 5 September 2026, dengan langkah mantap ia melakukan blusukan ke dusun-dusun terdampak. Tak sekadar melihat, beliau sengaja menggelar pertemuan terbuka di balai desa. Puluhan warga berduyun-duyun datang, membawa harapan dan kegelisahan. Suasana balai desa yang biasanya sejuk, pagi itu terasa hangat oleh semangat gotong royong dan rasa peduli. Pak Sarno, ketua kelompok tani yang dikenal tegas, maju ke depan dan menyampaikan suara hati warga, "Pak Dandim, jalan ini sudah seperti kubangan. Mobil angkutan tidak bisa lewat. Hasil panen kami banyak yang rusak atau terlambat sampai, harganya jadi jatuh. Kami mohon bantuannya." Dandim dengan sabar mendengarkan, mencatat setiap titik kerusakan yang disebutkan, dan matanya menyiratkan tekad untuk memperjuangkan perbaikan.
Harapan dari Setiap Aspirasi yang Disampaikan
Dalam pertemuan itu, warga tak hanya mengeluh, tetapi juga menyampaikan aspirasi mereka secara gamblang. Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi perhatian Dandim:
- Kerusakan jalan utama sepanjang 3 kilometer yang menghubungkan dua dusun, membuat akses hasil pertanian terhambat.
- Titik longsor di beberapa ruas jalan yang belum tertangani, mengancam keselamatan warga setiap kali hujan deras.
- Kebutuhan mendesak akan perbaikan infrastruktur jalan sebagai penunjang ekonomi desa, terutama saat musim panen tembakau dan sayur tiba.
Pak Dandim tak hanya mendengar, tetapi juga memberikan jawaban langsung yang menggugah hati. Dengan nada bersahabat, ia berkata kepada warga, "Bapak Ibu sekalian, saya sudah melihat langsung kondisi jalan. Ini bukan hanya urusan akses, ini urusan perut dan masa depan anak-anak kita. Saya akan perjuangkan sekuat tenaga usulan perbaikan jalan ini ke pemerintah daerah. Jangan putus asa, kita hadapi bersama." Janji itu disambut tepuk tangan dan senyum lega dari warga. Sejak saat itu, rasa kebersamaan antara aparat teritorial dan masyarakat semakin erat.
Kini, warga lereng Sindoro kembali menaruh harapan. Mereka percaya, dengan semangat gotong royong dan komitmen Dandim, jalan rusak akibat longsor akan segera diperbaiki. Bukan hanya sekadar aspal dan beton, tapi juga jalan penghubung mimpi dan kesejahteraan. Di setiap langkah warga yang meniti jalan berbatu, ada doa dan keyakinan bahwa perhatian dari mereka yang peduli tak akan sia-sia. Seperti kata Pak Sarno, "Selama ada yang mau mendengar dan berjuang, desa kami pasti bangkit."