Tanya Warga Trending

Warga Kampung Cihideung Bertanya, Kapan Jembatan Gantung Desa Diperbaiki?

Warga Kampung Cihideung Bertanya, Kapan Jembatan Gantung Desa Diperbaiki?

Warga Kampung Cihideung resah karena jembatan gantung satu-satunya akses ke sekolah dan pasar mulai miring dan rapuh. Babinsa Sertu Agus hadir menampung aspirasi warga melalui Jumat Curhat, mengusulkan perbaikan ke kecamatan. Harapan warga terus dijaga, bahwa kehadiran TNI menjadi jembatan antara suara rakyat dan pemerintah yang penuh kehangatan.

Di Kampung Cihideung, setiap tetes hujan yang turun selalu membawa rasa cemas. Terutama bagi Ibu Siti, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari harus melihat anak-anaknya menyeberangi jembatan gantung—satu-satunya akses menuju sekolah dan pasar. Jembatan itu kini miring, papan lantainya mulai rapuh, dan ketika hujan deras, anak-anak harus merambat pelan-pelan agar tidak terpeleset. “Kadang saya nggak tega, tapi mau bagaimana lagi? Jalan lain jauh,” ujarnya lirih. Suasana desa yang biasanya tenang berubah menjadi penuh kekhawatiran setiap musim penghujan tiba.

Jembatan Gantung yang Menyambung Harapan

Bagi warga Kampung Cihideung, jembatan gantung bukan sekadar titian biasa. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan mereka dengan kehidupan—ke pasar untuk berjualan hasil kebun, ke sekolah untuk masa depan anak-anak, dan ke puskesmas saat ada yang sakit. Namun, usia jembatan yang sudah puluhan tahun membuatnya rentan. Papan-papan mulai lapuk, dan besi pengikatnya sudah berkarat. “Kalau sampai putus, kita bisa terisolasi,” kata Pak RT, salah satu warga yang ikut dalam pertemuan rutin di balai desa. Aspirasi warga pun terus digaungkan: perbaiki jembatan gantung ini sebelum semuanya terlambat.

Kehadiran Babinsa Desa Cihideung, Sertu Agus, menjadi titik terang. Sosoknya yang akrab dengan warga selalu hadir setiap minggu untuk mendengarkan keluh kesah. Saat Jumat Curhat di balai desa, Sertu Agus mencatat setiap detail keluhan tentang jembatan itu. Ia menjelaskan bahwa usulan perbaikan sudah diajukan ke tingkat kecamatan dan sedang dalam proses verifikasi. “Kita harus sabar, tapi tetap semangat gotong royong,” pesannya sambil mengajak warga menjaga keamanan lingkungan. Babinsa menjadi jembatan penghubung antara suara rakyat kecil dan pemerintah.

Jumat Curhat, Suara dari Hati

Kegiatan Jumat Curhat yang digelar setiap pekan di balai desa menjadi wadah bagi warga untuk menyampaikan langsung aspirasi mereka. Pada salah satu pertemuan, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: “Kapan jembatan gantung desa diperbaiki?” Suasana haru dan penuh harap terasa saat Ibu Siti dan beberapa warga lain bergantian berbicara. Mereka berharap perbaikan bisa dilakukan sebelum jembatan benar-benar putus. Sertu Agus berjanji akan terus mengawal aspirasi ini sampai ada kepastian. “Tidak akan saya lepaskan sebelum ada kabar baik,” ujarnya tegas.

  • Jembatan gantung akan diperbaiki agar anak-anak tak lagi khawatir saat ke sekolah.
  • Warga bisa kembali beraktivitas ekonomi tanpa rasa takut.
  • Perbaikan jembatan membuka akses ke pasar dan layanan kesehatan lebih lancar.
  • Babinsa terus mendampingi warga dan mengawal usulan ke pemerintah.

Di setiap langkah, semangat gotong royong warga Cihideung tetap menyala. Mereka percaya, dengan adanya Babinsa yang peduli, suara mereka tak akan hilang begitu saja. Jembatan gantung itu mungkin kini miring, tapi harapan warga tetap tegak. Kehadiran TNI di tengah mereka bukan hanya soal keamanan, tapi juga tentang kebersamaan dan kepedulian. Seperti kata Sertu Agus, “Kita semua bersaudara, dan saudara tak akan membiarkan saudaranya kesulitan.”

perbaikan jembatan gantung
Terkait
  • Topik: perbaikan jembatan gantung
  • Tokoh: Ibu Siti, Sertu Agus
  • Organisasi: TNI, Babinsa
  • Tempat: Kampung Cihideung, Desa Cihideung

Artikel terkait