Pagi di Desa Telaga Mas, Kecamatan Katingan Hulu, Kalimantan Tengah, biasanya dimulai dengan suara gemericik air hujan yang mengguyur atap rumah panggung. Namun bagi warga, hujan bukan sekadar berkah alam—ia membawa cerita panjang perjuangan. Setiap tetes air yang turun mengubah jalan tanah merah menjadi lautan lumpur licin dan becek. Akses menuju pusat kecamatan yang hanya beberapa kilometer berubah menjadi medan ekstrem. Roda motor terbenam, langkah kaki terasa berat. Di musim hujan seperti ini, hasil kebun seperti karet dan sayur-sayuran yang seharusnya dijual sering teronggok di pinggir jalan karena tak ada kendaraan berani melintas. Anak-anak pun rela bangun lebih pagi, berjalan kaki menembus lumpur setinggi betis, demi sampai ke sekolah dengan seragam yang sudah belepotan tanah. Inilah pemandangan yang menjadi pemantik aspirasi warga untuk memperjuangkan perbaikan jalan rusak yang sudah puluhan tahun tak tersentuh.
Suara Hati Warga di Balai Desa: Aspirasi yang Dicatat Babinsa
Suasana di balai desa sore itu terasa hangat—bukan karena cuaca, melainkan karena kebersamaan yang terjalin. Serda Rudi, babinsa dari Koramil setempat, duduk melingkar bersama puluhan warga. Mereka tidak bicara soal politik atau berita besar, melainkan tentang hal-hal kecil yang sangat berarti dalam keseharian: jalan rusak. Dengan nada rendah namun penuh harap, Pak Jali, tokoh masyarakat berusia 60 tahun, angkat bicara. "Jalan ini sudah puluhan tahun tidak diperbaiki, Pak Babinsa. Kami mohon bantuan TNI untuk menyuarakan," ujarnya sambil menerawang jauh. Aspirasi ini bukan sekadar keluhan, melainkan permintaan yang lahir dari kepedihan nyata. Serda Rudi, dengan sabar, mencatat setiap kata—soal roda yang patah, soal anak-anak yang terlambat sekolah, soal hasil kebun yang membusuk. Berikut suara hati yang ia tampung:
- Roda kendaraan patah akibat lubang besar di jalan
- Anak-anak sering terlambat masuk sekolah karena harus berjalan di lumpur
- Hasil kebun seperti karet dan sayur membusuk karena tidak bisa diangkut ke pasar
Serda Rudi berjanji akan menyampaikan semua ini ke Dinas Pekerjaan Umum melalui koordinasi dengan koramil. "Saya akan bawa suara bapak-ibu semua ke atas. Jangan sampai aspirasi ini hanya menjadi angin lalu," kata Rudi, disambut tepuk tangan dan senyum lega dari warga. Pertemuan itu menjadi bukti nyata kedekatan TNI dengan warga desa, di mana babinsa bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga pendengar setia keluh kesah rakyat.
Gotong Royong di Tengah Lumpur: TNI dan Warga Bersatu Perbaiki Jalan
Namun, bukan hanya janji yang dibawa babinsa. Serda Rudi juga mengajak warga untuk bergerak bersama. "Sambil menunggu bantuan dari pemerintah, mari kita perbaiki dulu yang bisa kita perbaiki. Gotong royong, timbun lubang-lubang besar, biar sementara waktu bisa dilewati," ajaknya. Tanpa pikir panjang, warga pun berhamburan pulang untuk mengambil alat dan bahan. Pemandangan yang mengharukan terjadi: di bawah langit mendung, bapak-bapak dan pemuda desa bersama-sama menggali tanah, mengangkat batu, dan menimbun lubang-lubang yang selama ini menjadi mimpi buruk. Anak-anak pun ikut membantu membawakan air minum untuk para pekerja. Tak lama, jalan yang tadinya seperti kubangan lumpur mulai menunjukkan perbaikan. Meski belum sempurna, setidaknya roda kendaraan sudah bisa melintas dengan lebih aman.
Perbaikan jalan ini bukan hanya soal infrastruktur, melainkan tentang kembalinya harapan. Warga mulai bisa membayangkan membawa hasil kebun ke pasar tanpa rasa was-was. Anak-anak pun bisa berangkat sekolah dengan langkah lebih ringan. "Kami sangat berterima kasih kepada Pak Babinsa yang tidak hanya mendengar, tapi juga turun langsung membantu. Ini menunjukkan TNI benar-benar dekat dengan rakyat," ujar Pak Jali dengan mata berkaca-kaca. Semangat gotong royong yang dihidupkan kembali ini menjadi pelajaran bahwa perubahan tidak selalu menunggu bantuan besar—kadang, ia dimulai dari langkah kecil bersama.
Di tengah lumpur dan hujan, hangatnya kebersamaan antara TNI dan warga Desa Telaga Mas menjadi cahaya harapan. Meski jalan masih jauh dari mulus, semangat untuk bersama-sama membangun desa tidak akan padam. Kisah ini mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu dan hati yang tulus untuk berbagi. Dari Telaga Mas, kita belajar bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar yang tidak pernah bisa digoyahkan oleh lumpur ataupun hujan.