Pagi itu, mentari baru saja menyentuh ufuk timur di Desa Tanjung Belit, Riau. Hamparan sawah mulai menguning, tanda musim panen sudah di depan mata. Namun, di balik pemandangan indah itu, hati Pak Joko, petani yang sudah puluhan tahun menggarap ladang, tak menentu. Ia duduk termenung di pinggir pematang, matanya menerawang jauh. Harga pupuk yang melambung tinggi membuat biaya tanam membengkak, sementara hasil panen tak kunjung sebanding. Di saat itulah, ia melihat Sertu Rahman, Babinsa Koramil 0321, yang tengah berjalan menyusuri pematang untuk kunjungan rutin. Tanpa ragu, Pak Joko meluapkan kegelisahannya, "Pak, kami bingung. Harga pupuk naik terus, hasil panen tidak sebanding." Keluhan ini bukan sekadar omongan biasa—inilah aspirasi warga yang menggambarkan keresahan para petani di desa itu. Dari curhat kecil di pinggir sawah, lahirlah secercah harapan baru.
Curhat di Pinggir Sawah, Babinsa Langsung Bergerak
Sertu Rahman tidak tinggal diam mendengar tanya warga soal pupuk mahal. Beliau segera mencatat semua keluhan, lalu berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat. Hasilnya, usulan program pupuk bersubsidi khusus pun digulirkan. Hari ini, distributor resmi menurunkan harga pupuk hingga 20% bagi petani di Desa Tanjung Belit. Bantuan ini disambut haru oleh Pak Joko dan petani lainnya. Berikut manfaat yang langsung dirasakan warga:
- Harga pupuk turun 20%, meringankan beban biaya tanam.
- Petani tidak perlu lagi membeli pupuk dengan harga eceran mahal.
- Distributor resmi menyediakan pasokan langsung ke desa, menghemat ongkos transportasi.
- Babinsa menjadi jembatan antara warga dan pemerintah daerah.
"Kami didengar, Pak Babinsa memperjuangkan kami," kata Joko dengan mata berkaca-kaca. Senyumnya merekah, mencerminkan rasa syukur yang mendalam. Semangat gotong royong pun kembali menggelora di tengah petani.
Pupuk Organik: Harapan Baru dari Kandang Ternak
Tak hanya mengandalkan subsidi, Sertu Rahman juga mengajak para petani untuk membuat pupuk organik dari kotoran ternak. Di balai desa, warga berkumpul untuk belajar cara mengolah limbah menjadi kompos yang subur. Pupuk mahal perlahan bukan lagi momok, karena alternatif ramah kantong dan lingkungan mulai dipraktikkan. Program ini mendapat sambutan hangat. "Kami jadi punya pilihan lain selain pupuk kimia, dan ini lebih murah," ujar Pak Joko. Kehangatan gotong royong terasa saat ibu-ibu dan bapak-bapak bergantian mengaduk campuran kotoran sapi, sekam, dan dedaunan. Dari aspirasi warga yang semula hanya berupa keluhan, kini lahir solusi nyata yang mengubah hidup mereka. Semangat warga pun semakin membara—mereka berharap pendampingan dari TNI tidak berhenti sampai di sini. "Dengan bimbingan Babinsa, kami jadi lebih percaya diri untuk bertani secara mandiri," tambah Pak Joko dengan penuh haru.
Di sore hari, saat mentari perlahan tenggelam di ujung sawah, Pak Joko dan kawan-kawan duduk bersama Sertu Rahman. Raut wajah mereka tidak lagi muram. Percakapan ringan diselingi tawa mengalir hangat—mengingatkan betapa kuatnya kebersamaan warga desa. Dari curhat kecil di pinggir sawah, lahirlah solusi nyata. Kini, Tanjung Belit tak hanya punya sawah yang menghijau, tetapi juga hati yang bersatu, saling menguatkan di setiap langkah.