Tanya Warga Trending

Warga Desa Sumba Timur Curhat ke Babinsa: 'Kami Butuh Jalan Desa yang Layak'

Warga Desa Sumba Timur Curhat ke Babinsa: 'Kami Butuh Jalan Desa yang Layak'

Warga Desa Laitaku, Sumba Timur, menyampaikan aspirasi soal infrastruktur jalan yang rusak parah kepada Babinsa Serda Joko Widodo. Hasil pertanian seperti jagung dan kacang mete sulit dipasarkan karena akses jalan becek dan longsor. Serda Joko berjanji akan mengawal perbaikan jalan hingga ada solusi, memperkuat kedekatan TNI dengan warga di pelosok.

Di sebuah teras rumah panggung di Desa Laitaku, Sumba Timur, sepuluh warga duduk melingkar. Mereka bukan sedang menggelar acara besar, hanya obrolan sore ditemani secangkir kopi hitam. Namun di balik senyum dan tawa kecil, tersimpan keresahan yang sudah lama mengendap. Di tengah-tengah mereka duduk Serda Joko Widodo, Babinsa setempat. Dengan buku catatan di tangan dan telinga yang terbuka lebar, ia mendengarkan satu per satu keluh kesah warga. Suasana akrab bukan tanpa alasan—Serda Joko sudah seperti saudara sendiri bagi mereka. Tapi topik kali ini serius: jalan desa yang selama bertahun-tahun menjadi duri dalam kehidupan sehari-hari.

Mendengar Aspirasi dari Bawah Teras Panggung

Kepala Desa Marthen Ndapa angkat bicara setelah suasana agak hening. "Kami ingin dibantu, Pak. Jalan ini nyawa kami," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. Bukan tanpa alasan. Jalan tanah yang menjadi satu-satunya akses warga sudah rusak parah. Setiap kali hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berbahaya. Truk pengangkut hasil pertanian enggan masuk karena takut tergelincir atau malah terperosok. Akibatnya, hasil bumi seperti jagung dan kacang mete—yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga—sering membusuk di gudang atau harus dijual dengan harga murah ke tengkulak. Inilah mengapa aspirasi warga soal infrastruktur jalan begitu mendesak. Dari obrolan sore itu, Serda Joko mencatat beberapa hal penting yang menjadi harapan warga:

  • Perbaikan jalan sepanjang 5 kilometer yang menghubungkan desa ke pasar kecamatan
  • Pembangunan gorong-gorong di titik rawan longsor agar akses tidak putus saat musim hujan
  • Bantuan alat berat untuk meratakan tanah yang berlubang dan bergelombang
  • Pendampingan teknis dari dinas terkait agar jalan yang dibangun sesuai standar desa

Babinsa, Jembatan Antara Warga dan Pemerintah

Serda Joko menutup buku catatannya, lalu menatap satu per satu warga yang hadir. "Pak Kades, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, semua aspirasi ini akan saya teruskan ke komando atas. Kami akan koordinasi dengan dinas terkait, dan saya akan kawal sampai ada solusi. Karena desa ini bagian dari binaan kami," katanya dengan nada tenang namun pasti. Warga mengangguk lega. Mereka tahu bahwa Babinsa bukan sekadar aparat yang datang dan pergi, melainkan mitra yang selalu ada di tengah mereka. Di pelosok Sumba yang aksesnya masih terbatas, peran Babinsa seperti Serda Joko menjadi jembatan antara warga dan pemerintah. Ia bukan hanya mencatat keluhan, tetapi juga menjadi pendamping dan pengawal program-program yang masuk ke desa. Masyarakat pun merasa didengar, bukan sekadar dianggap sebagai objek pembangunan.

Hari mulai senja di Laitaku. Namun obrolan itu meninggalkan secercah harapan. Warga pulang ke rumah masing-masing dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Mereka percaya, dengan adanya Babinsa yang terus mendampingi, jalan desa yang layak bukan lagi mimpi di siang bolong. Seperti yang diucapkan Serda Joko sebelum pamit: "Kita sama-sama berjuang. Tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa gotong royong. Dan kami, Babinsa, akan ada di sini, bersama kalian." Hangat kata-kata itu menyelimuti dusun yang mulai diterangi lampu minyak tanah. Di balik keterbatasan, semangat kebersamaan tetap menyala.

kondisi jalan desa aspirasi warga
Terkait
  • Topik: kondisi jalan desa, aspirasi warga
  • Tokoh: Joko Widodo, Marthen Ndapa
  • Tempat: Desa Laitaku, Sumba Timur

Artikel terkait