Di sudut Desa Suka Makmur, Kecamatan Bagan Sinembah, Riau, rumah Pak Rudi yang terbuat dari papan sudah nyaris rubuh. Atapnya bocor di mana-mana, dinding miring, dan tiang penyangga mulai lapuk. Setiap kali hujan turun, Pak Rudi dan keluarganya harus mengumpulkan ember untuk menampung air yang masuk. Melihat tetangga di desa sebelah mendapatkan program bedah rumah dari TNI, Pak Rudi pun bertanya-tanya. “Kapan giliran kami? Rumah saya sudah tidak layak huni, tapi saya tak punya biaya,” keluhnya sembari memandangi dinding yang retak. Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan, melainkan harapan yang tak kunjung tiba.
Suara dari Sudut Desa: Pertanyaan Warga yang Menggema
Pertanyaan Pak Rudi akhirnya sampai ke forum Musyawarah Desa yang dihadiri Babinsa setempat, Sertu Agus. Dalam forum itu, suasana terasa hangat meski pembicaraan serius. Warga duduk melingkar di balai desa, sebagian membawa anak kecil yang berlarian di sela-sela kursi. Pak Rudi angkat bicara dengan suara lirih namun jelas. “Pak Babinsa, kami tahu program bedah rumah TNI itu bagus. Tapi kenapa belum sampai ke kampung kami?” tanyanya. Sertu Agus mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menjelaskan bahwa program TNI ini memang bertahap dan didasarkan pada data kependudukan serta prioritas kesejahteraan. “Kami tidak mau asal pilih. Kami pakai data dari Dinas Sosial dan perangkat desa supaya tepat sasaran,” jelasnya sambil membuka buku catatan. Ia juga menyebut bahwa Desa Suka Makmur sudah masuk daftar usulan, tinggal menunggu verifikasi.
Gotong Royong dan Harapan Baru untuk Desa
Sertu Agus berjanji akan mengusulkan nama Pak Rudi dan tiga warga lain melalui Dinas Sosial setempat. “Kami tidak hanya bedah rumah, tapi juga ingin warga merasa diperhatikan,” tegasnya. Ia lalu memaparkan beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan warga:
- Data prioritas – Warga yang rumahnya paling tidak layak huni akan didahulukan, seperti Pak Rudi yang dindingnya sudah miring dan atap bocor.
- Gotong royong – Warga desa diharapkan ikut membantu saat proses bedah rumah, misalnya menyediakan tenaga atau bahan lokal yang bisa digunakan.
- Usulan dari Babinsa – Sertu Agus akan langsung mengajukan proposal ke Dandim melalui Dinas Sosial, agar prosesnya lebih cepat.
- Pendampingan – TNI akan memantau pengerjaan agar kualitas rumah sesuai standar layak huni.
Warga pun lega, setidaknya suara mereka didengar langsung oleh aparat teritorial. Pak Rudi tersenyum, merasa ada secercah harapan. “Kalau begitu, kami siap gotong royong, Pak. Demi kampung yang lebih baik,” ujarnya mantap.
Di akhir forum, Sertu Agus mengingatkan bahwa program bedah rumah TNI bukan hanya soal fisik bangunan. Lebih dari itu, ini adalah wujud kedekatan TNI dengan rakyat. “Kami hadir untuk mendengar, membantu, dan bersama-sama membangun desa. Jangan sungkan bertanya jika ada keraguan,” katanya sambil menepuk bahu Pak Rudi. Sejak hari itu, semangat gotong royong di Desa Suka Makmur kembali hidup. Warga mulai membersihkan halaman rumah Pak Rudi, menyusun bahan bangunan yang bisa dipakai, dan menyiapkan tempat untuk tukang. Pertanyaan warga tentang program bedah rumah TNI pun tak lagi mengganjal. Kini, mereka menanti dengan penuh harap—bukan hanya rumah yang kokoh, tapi juga rasa kebersamaan yang semakin erat antara TNI dan desa.