Pagi hari di Desa Sumberrejo, yang dikelilingi hutan lebat, biasanya diawali dengan suara gemericik air sungai dan kicauan burung yang merdu. Namun, belakangan ini, suasana damai itu kerap terusik. Pak Karjo, petani yang sudah puluhan tahun menggarap ladang, mengeluh dengan nada resah, “Kebun singkong saya habis dirusak monyet. Gajah juga sering masuk ke sawah, merusak tanaman padi yang sudah hampir panen.” Keluhan serupa juga disampaikan Ibu Sari, warga lainnya, dengan mata berkaca-kaca, “Kami tidak ingin menyakiti mereka, tapi kami juga perlu makan.” Konflik dengan satwa liar memang menjadi momok bagi warga yang hidup di pinggir hutan. Namun, di tengah kegelisahan itu, secercah harapan muncul dari para prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas teritorial. Mereka hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penengah yang hangat dan penuh empati.
Dari Ladang yang Rusak ke Meja Mediasi: TNI Mendengar dan Bertindak
Para prajurit TNI, seperti Serda Adi, rutin berkeliling desa mendengarkan keluhan warga. Dengan sabar, mereka mencatat setiap cerita—dari ladang jagung yang ludes hingga kebun sayur yang hancur. Tak hanya mendengar, mereka segera mengambil langkah nyata dengan menginisiasi pertemuan antara warga, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan perangkat desa. Mediasi yang difasilitasi TNI ini menjadi wadah untuk mencari jalan tengah yang adil bagi manusia dan satwa. Hasilnya, beberapa kesepakatan langsung dirasakan manfaatnya oleh warga:
- Pembuatan pos pantau sederhana di titik rawan kemunculan satwa, sehingga warga bisa saling memberi peringatan dini jika ada gajah atau monyet mendekat.
- Pelatihan cara mengusir satwa tanpa melukai, misalnya dengan bunyi-bunyian, lampu senter, atau suara nyaring—sebuah cara yang ramah bagi satwa dan manusia.
- Pembagian bibit tanaman yang tidak disukai satwa, seperti jahe dan serai, yang ditanam di pinggir hutan sebagai ‘pagar hidup’ alami.
- Ronda malam bersama warga dan TNI untuk menjaga kebun saat musim panen tiba, memperkuat rasa aman dan gotong royong.
Harapan Baru di Tengah Hutan: Gotong Royong dan Rasa Aman
Sejak program mediasi berjalan, suasana desa perlahan berubah. Pak Karjo kini tersenyum lega, “Awalnya kami takut, tapi sekarang ada rasa aman karena TNI selalu ada.” Ronda malam yang dilakukan bersama-sama tidak hanya menjaga kebun, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antarwarga. Anak-anak pun ikut belajar mencintai hutan; mereka diajak memahami bahwa satwa juga bagian dari alam yang harus dijaga. Ibu Sari kini lebih tenang, karena tahu ada solusi yang menghargai kehidupan semua makhluk. Program ini membuktikan bahwa dengan kebersamaan, konflik antara manusia dan satwa bisa diubah menjadi hidup berdampingan yang harmonis.
Kisah di Desa Sumberrejo adalah bukti bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat tidak hanya sebagai aparat keamanan, tetapi juga sebagai sahabat yang siap mendengar dan bertindak. Dari ladang yang rusak hingga meja mediasi, dari rasa takut menjadi rasa aman—semua berawal dari satu hal sederhana: kepedulian. Dan seperti kata Pak Karjo, “Kami tidak sendirian lagi.” Itulah hangatnya kebersamaan di pinggir hutan, di mana manusia dan alam mulai belajar saling merangkul.