Di kaki perbukitan Desa Nglinggis, Kecamatan Panggul, Trenggalek, suara gemericik air hujan bukan lagi sekadar irama alam, melainkan isyarat kekhawatiran. Setiap rintik yang jatuh mengingatkan warga desa pada jalan rusak yang berlumpur, licin, dan sulit dilalui. Pak Karto, seorang petani jagung, menghela napas panjang saat menceritakan pengalamannya. “Dua minggu lalu, saya hampir terjatuh dari motor saat membawa hasil panen. Jalannya becek, licin, seperti main di lumpur,” katanya sambil menggeleng. Keluhan serupa menggema di pertemuan antara warga desa dan Babinsa Koramil 0801/Panggul. Bukan hanya hasil pertanian yang tertahan, akses ke pasar, sekolah, dan puskesmas pun terhambat. “Kapan jalan ini diperbaiki?” pertanyaan warga itu melayang di udara, penuh harap.
Pertanyaan Warga yang Menggugah Hati
Dalam forum yang hangat dan penuh semangat gotong royong, para petani dan ibu-ibu bergantian menyampaikan uneg-uneg. Mereka mengkhawatirkan masa depan anak-anak yang harus berjalan jauh melewati jalan rusak untuk sekolah. “Banyak yang tergelincir, baju basah, jadi malas sekolah,” ujar Bu Laras, seorang ibu rumah tangga. Kepala Desa Nglinggis, Pak Sutrisno, menegaskan bahwa kondisi jalan rusak ini sudah berlangsung selama tiga tahun tanpa perbaikan berarti. “Kami sudah berkali-kali mengusulkan, tapi belum ada realisasi. Warga desa mulai putus asa,” tambahnya. Di tengah kegalauan itu, kehadiran Babinsa Serma Agus menjadi secercah harapan. Ia mendengarkan dengan seksama, mencatat keluhan demi keluhan, dan berjanji akan segera melaporkan ke Kodim Trenggalek. “Kami akan dorong program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) untuk Trenggalek, khususnya di sini,” ujar Serma Agus mantap.
TNI dan Warga, Bergerak Bersama untuk Perubahan
Diskusi berlanjut dengan semangat kebersamaan. Babinsa tidak hanya berjanji, tetapi juga mengajak warga untuk bahu-membahu mengatasi masalah lain yang tak kalah penting, seperti saluran air yang tersumbat. “Kalau saluran air bersih, banjir bisa kita cegah. Jalan juga tidak akan semakin rusak,” jelas Serma Agus. Warga desa pun langsung setuju, suasana jadi hidup dengan rencana kerja bakti pekan depan. Pak Sutrisno tersenyum lega. “Kehadiran TNI di tengah kami seperti angin segar. Mereka tidak hanya mendengar, tapi juga mau berjuang bersama. Ini yang kami butuhkan,” ujarnya penuh syukur. Serma Agus pun menambahkan, “Kami bagian dari warga. Kalau warga susah, kami ikut merasakan. Bersama-sama kita pasti bisa.”
Berikut beberapa manfaat yang diharapkan dari sinergi antara warga, pemerintah desa, dan TNI di Desa Nglinggis:
- Akses lebih lancar menuju pasar, sekolah, dan pusat kesehatan — tidak ada lagi anak yang takut berangkat sekolah saat hujan.
- Hasil pertanian bisa diangkut tepat waktu ke pengepul, sehingga pendapatan petani meningkat.
- Gotong royong kembali hidup, memperkuat ikatan warga dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap desa.
- Kesiapsiagaan bencana meningkat dengan saluran air yang bersih dan perbaikan infrastruktur dasar.
Di ujung perbincangan, mentari sore menyinari Desa Nglinggis dengan kehangatan. Harapan warga desa tentang jalan rusak yang segera diperbaiki kini bukan lagi sekadar angan. Dengan dukungan TNI dan semangat gotong royong, setiap tetes keringat yang tertumpah akan menjadi saksi perubahan. Anak-anak akan kembali ceria berangkat sekolah, petani bisa mengangkut hasil panen dengan senyum, dan desa ini akan bangkit dari keterpurukan. Karena pada akhirnya, kebersamaan adalah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, dan tidak ada yang mustahil jika kita bergandengan tangan.