Di lereng hijau Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo hidup dari hasil bumi seperti kopi dan kemiri. Namun, di balik panorama alam yang memukau, warga harus berjuang melawan satu rintangan besar: jalan poros sepanjang 8 kilometer yang sudah rusak parah sejak tiga tahun lalu. Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi lautan lumpur. Sepeda motor sering terjebak, dan kendaraan roda empat hampir mustahil melintas. Keluhan demi keluhan pun tak henti terdengar, hingga suatu hari, puluhan warga duduk melingkar di bawah langit senja bersama Babinsa setempat, Serda Yohanes Landang, dalam sebuah dialog terbuka yang penuh harap.
Menyusuri Aspirasi Warga di Lereng Manggarai
Dalam forum bulanan yang sudah menjadi tradisi itu, warga bergantian menyampaikan uneg-uneg mereka. Bapak-bapak petani mengeluhkan hasil panen kopi dan kemiri yang sulit dikeluarkan. Ibu-ibu pedagang kecil bercerita tentang harga jual yang anjlok karena biaya transportasi membengkak. Serda Yohanes Landang mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat di buku kecilnya. “Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas PU, tapi belum ada realisasi. Semoga dengan dukungan TNI lewat program teritorial, ada titik terang,” ujarnya dengan nada optimis yang menular. Aspirasi warga ini bukan hanya soal jalan desa — ini soal hidup, soal masa depan anak-anak mereka yang ingin bersekolah tanpa khawatir terjebak lumpur. Berikut adalah rintangan yang mereka hadapi sehari-hari:
- Hasil bumi terhambat: Kopi dan kemiri yang menjadi andalan desa sering membusuk sebelum sempat dijual ke kecamatan.
- Biaya transportasi membengkak: Ongkos angkut barang naik dua kali lipat karena kendaraan harus memutar jauh lewat jalan alternatif.
- Akses pendidikan terganggu: Anak-anak sekolah sering terlambat atau bahkan bolos saat hujan deras karena jalan tak bisa dilalui.
Kemanunggalan TNI: Dari Dialog ke Harapan Baru
Serda Yohanes tidak hanya diam. Ia berjanji akan menyampaikan semua aspirasi warga ke Kodim 1612/Manggarai. Bukan hanya itu, ia juga tengah mengupayakan agar perbaikan jalan desa ini masuk dalam program TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa) tahun depan. Kepala Desa Wae Rebo, Eduardus Jegho, menyambut gembira langkah ini. “Akses transportasi adalah denyut nadi perekonomian desa. Kalau jalan mulus, harga kopi naik, anak-anak bisa sekolah dengan nyaman. Kami sangat berharap TNI ikut mengawal pembangunan ini,” katanya penuh semangat. Dialog seperti ini, yang digelar rutin setiap bulan, menjadi bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Di sinilah terasa bahwa TNI bukan sekadar aparat, melainkan sahabat yang ikut merasakan getirnya kehidupan desa.
Malam mulai turun di Wae Rebo, namun obrolan antara warga dan Serda Yohanes belum usai. Di balik asap rokok dan secangkir kopi hangat, tumbuh benih-benih keyakinan bahwa jalan poros desa suatu hari akan mulus kembali. Bersama TNI, warga tidak merasa sendiri. Mereka yakin, selama gotong royong masih hidup dan semangat kebersamaan terus menyala, setiap rintangan pasti bisa dihadapi. Harapan itu, meskipun sederhana, menjadi kekuatan baru bagi warga Manggarai untuk terus melangkah maju.