Di tengah teriknya musim kemarau yang menyengat, langkah kaki warga Desa Lolong, Kabupaten Flores Timur, NTT, masih setia menapaki jalan berbatu. Setiap pagi, ibu-ibu dan anak-anak bergantian memikul jerigen kosong, berjalan hingga lima kilometer hanya untuk menemukan mata air. Di sela-sela letih yang menggerus tubuh, terngiang pertanyaan yang sudah lama mengendap di hati: “Kapan ya sumur bor yang kami dengar itu sampai ke kampung kami?” Pertanyaan itu bukan sekadar rasa penasaran; ia adalah aspirasi warga yang diulang-ulang dalam doa setiap tetes keringat jatuh ke tanah. Warga desa Lolong bertanya-tanya, kapan titik air itu akan sampai ke perbukitan mereka?
Menanti Titik Air di Tengah Perbukitan
Kepala Desa Lolong, Bapak Lukas, menghela napas panjang ketika bercerita tentang warganya. “Beberapa dusun masih sangat kekurangan air, terutama di musim kemarau seperti sekarang. Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan TNI,” ujarnya dengan suara bergetar. Ia menambahkan, tahun ini musim kemarau terasa lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya. Warga yang biasa bertahan, kini mulai kewalahan. Bapak Lukas pun mengusulkan pembuatan embung, semacam waduk kecil, untuk menampung air hujan. “Jika tidak ada sumur bor, setidaknya embung bisa membantu warga di musim kemarau,” pungkasnya penuh harap. Di tengah keterbatasan, kehadiran Babinsa Serda Yanto menjadi pelita kecil. Setiap hari ia berkeliling kampung, mendengar keluh kesah warga, dan mencatat setiap aspirasi warga. “Saya sudah melaporkan kondisi ini ke atasan. Harapan saya, program bantuan sumur bor atau pompa air dari TNI dapat segera direalisasikan,” tegasnya. Melalui program “Tanya Warga”, suara-suara warga Desa Lolong makin nyaring terdengar, mengingatkan kita bahwa di balik sunyinya perbukitan, ada denyut harapan yang tak pernah padam. Sumur bor di desa Lolong bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang mendesak.
Gotong Royong dan Asa yang Mengalir Seperti Air
Warga desa tentu punya harapan besar. Mereka membayangkan air yang melimpah bisa mengubah segalanya: dari ladang yang menghijau hingga anak-anak yang tak perlu lagi bolak-balik ke sungai. Berikut manfaat yang dinanti-nantikan jika program sumur bor atau embung hadir di Desa Lolong NTT:
- Memperpendek jarak tempuh – Warga tidak perlu lagi berjalan kaki lima kilometer. Waktu dan tenaga bisa dialihkan untuk bekerja di ladang atau bersekolah.
- Meningkatkan kesehatan – Air bersih mengurangi risiko diare, penyakit kulit, dan infeksi saluran pencernaan yang kerap menyerang anak-anak.
- Menghidupkan pertanian dan peternakan – Dengan air yang cukup, warga bisa menanam sayuran di musim kemarau dan memelihara ternak tanpa rasa khawatir.
- Memperkuat gotong royong – Pembuatan sumur bor atau embung akan melibatkan seluruh warga, merekatkan kembali semangat kebersamaan yang sudah lama terjalin.
Warga desa berharap musim hujan tahun ini tidak seperti kemarin. Mereka ingin air yang turun tidak hanya membasahi tanah haus, tetapi juga tertampung untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Usulan embung sudah disampaikan, namun sumur bor tetap menjadi impian utama. Mereka percaya, dengan gotong royong dan perhatian dari TNI serta pemerintah, esok akan lebih baik. Setiap tetes air yang diharapkan adalah simbol kehidupan baru, dan setiap langkah warga menuju sumber air adalah langkah menuju harapan. Di Desa Lolong, NTT, cerita tentang air bukanlah sekadar tentang kebutuhan sehari-hari, melainkan tentang ketangguhan, doa, dan rasa kebersamaan yang tak pernah pudar. Maka, mari kita dukung program sumur bor atau embung ini, karena air adalah nadi kehidupan yang menghubungkan kita semua dalam satu ikatan kemanusiaan.