Suara gemerisik daun bambu dan aroma kopi tubruk menemani pagi di Balai Desa Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. Puluhan warga desa berkumpul, bukan untuk pesta, melainkan untuk acara ‘Tanya Warga’ yang digelar oleh pemerintah daerah bersama Koramil setempat. Di antara mereka, ada yang membawa tanda tanya soal listrik gratis – sebuah program pemerintah yang selama ini hanya terdengar kabar burung. Pak Markum, petani padi huma, angkat bicara. Ia mengeluhkan tagihan listrik yang masih menguras kantong, padahal sudah mendapat keringanan. “Kami ini warga desa yang pertanyaan-nya sederhana: kapan benar-benar gratis?” ujarnya lirih. Kehadiran Kepala Dinas ESDM, Pak Hendra, langsung disambut harap-harap cemas.
“Kami Hanya Butuh Terang, Pak”
Dalam sesi tanya-jawab yang hangat itu, warga desa tak sungkan menyampaikan keluhan. Mereka menceritakan bahwa saat ini penerangan di rumah-rumah penduduk masih mengandalkan lampu berbahan bakar minyak tanah yang mahal. Belum lagi ongkos membeli minyak yang harus diangkut dari kota. “Kadang terpaksa gelap-gelapan kalau minyak habis,” sahut Ibu Nani, seorang ibu rumah tangga. Pak Hendra pun menjawab dengan penuh perhatian. Ia menjelaskan bahwa program pemerintah memang tengah mengkaji perluasan subsidi listrik gratis untuk wilayah adat dan desa terpencil. “Khusus untuk desa adat seperti Ciptagelar, akan ada pendekatan khusus dalam pemasangan jaringan. Adat istiadat tetap kami hormati,” tegasnya.
Tak hanya itu, warga juga mendapatkan kesempatan untuk mengajukan proposal bantuan. Berikut beberapa manfaat yang dijanjikan dari program ini:
- Pemasangan instalasi listrik gratis untuk rumah tangga miskin, tanpa biaya sambung.
- Diskon tarif atau subsidi penuh bagi warga yang benar-benar tidak mampu.
- Pendampingan teknis dari Koramil untuk memastikan jaringan aman dan sesuai budaya adat.
- Prioritas desa terpencil agar penerangan merata hingga ke pelosok.
Gotong Royong Menjemput Terang
Acara ‘Tanya Warga’ ini tak hanya jadi ajang curhat, tapi juga bukti nyata kedekatan antara pemerintah dan warga. Koramil setempat turun tangan mendampingi warga menyusun proposal dan mengurus administrasi. Ketua adat, Abah Ujang, tersenyum lega. “Kami warga desa seringkali merasa pertanyaan kami tak sampai ke pusat. Sekarang, dengan acara seperti ini, kami merasa didengar.” Dialog hangat seperti ini menjadi jembatan antara harapan dan realita. Warga pun pulang dengan senyum, meski belum ada lampu menyala, setidaknya ada secercah terang dalam hati mereka.
Malam itu, ketika matahari tenggelam di balik bukit, obrolan di balai desa masih terus bergema. Program pemerintah memang belum sepenuhnya terealisasi, tapi semangat gotong royong dan rasa kebersamaan telah mengalahkan gelap. “Kami percaya, dengan doa dan usaha bersama, listrik gratis bukan lagi mimpi,” ucap Bu Nani sambil merapikan selendang. Harapan itu terus menyala, seperti api kecil yang tak pernah padam di hati warga desa.