Tanya Warga Trending

Warga Desa di NTT Curhat ke Danramil: Jalan Rusak Parah, Hasil Pertanian Terhambat

Warga Desa di NTT Curhat ke Danramil: Jalan Rusak Parah, Hasil Pertanian Terhambat

Di balai desa Wolowaru, NTT, Danramil Kapten Inf. Hendra mendengar langsung keluhan petani soal jalan rusak yang menghambat hasil panen. Dengan hangat, ia berjanji memperjuangkan aspirasi warga ke pemerintah daerah. Suasana ditutup dengan makan jagung rebus bersama, mengukuhkan kedekatan TNI dengan rakyat.

Di sebuah balai desa di Kecamatan Wolowaru, NTT, suara tawa dan celoteh petani bercampur dengan aroma jagung rebus yang baru matang. Puluhan warga duduk melingkar, matanya penuh harap. Suasana hangat itu sontak berubah ketika seorang petani bernama Bapak Markus angkat bicara. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana jalan rusak di kampungnya membuat hasil panen jagung dan kopi teronggok di gudang. “Truk tidak berani lewat, Pak. Kami terpaksa jual murah ke tengkulak,” keluhnya. Hari itu, Danramil Wolowaru, Kapten Inf. Hendra, datang bukan untuk inspeksi, melainkan untuk duduk bersama, mendengar langsung aspirasi warga tentang mimpi dan luka yang mereka bawa.

Curhat Petani di Balai Desa: Jalan Rusak, Mimpi Panen Terhambat

Sepanjang musim hujan, jalan menuju kebun dan pasar benar-benar menjadi momok. Bapak Markus dan puluhan petani lainnya mengaku bahwa di beberapa titik, aspal ambrol dan lumpur setinggi betis membuat kendaraan pengangkut tidak berani melintas. “Hasil tani kami bagus, Pak. Kopi wangi, jagung besar. Tapi kalau tidak bisa ke pasar, ya sia-sia,” ujar Ibu Ria, petani kopi asal desa tetangga. Kondisi ini membuat mereka bergantung pada tengkulak yang membeli dengan harga sangat rendah. Banyak keluarga harus merelakan keuntungan hanya untuk bertahan, sementara harga di kota melonjak. Kejadian ini bukan baru sekali, namun belum ada solusi nyata. Di sinilah peran Danramil sebagai jembatan antara rakyat dan pemerintah sangat dinantikan.

Danramil Hadir Mendengar, Menjadi Jembatan Aspirasi

Kapten Inf. Hendra tidak hanya duduk diam. Dengan sabar, ia mencatat setiap poin yang disampaikan warga—mulai dari titik kerusakan, nama jalan, hingga kebutuhan alat berat. “Saya tidak bisa berjanji cepat, tapi saya pastikan suara bapak-ibu akan kami perjuangkan. TNI hadir untuk menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah,” tegasnya di hadapan puluhan pasang mata yang berbinar. Langkah ini menjadi bukti nyata program kedekatan teritorial TNI di NTT. Melalui komunikasi yang hangat, warga merasa dihargai dan didengar. Adapun manfaat dari program ini yang dirasakan langsung oleh warga, antara lain:

  • Mendapat saluran langsung untuk menyampaikan aspirasi warga tanpa birokrasi berbelit.
  • Membangun kepercayaan bahwa TNI bukan hanya alat negara, tapi juga sahabat di kampung.
  • Membuka jalan bagi koordinasi cepat dengan pemerintah daerah untuk perbaikan jalan rusak.
  • Memperkuat gotong royong dan rasa kebersamaan antara petani, perangkat desa, dan aparat teritorial.

Acara musyawarah yang awalnya penuh keluhan perlahan berubah menjadi obrolan akrab. Setelah diskusi selesai, warga dan Danramil duduk bersama menyantap jagung rebus yang disediakan ibu-ibu setempat. Tawa lepas terdengar, seolah beban sejenak terangkat. “Kami bersyukur ada perwira yang mau turun langsung. Ini yang kami butuhkan, bukan hanya janji, tapi kehadiran,” ucap Bapak Markus sambil tersenyum. Hari itu, balai desa menjadi saksi bahwa di tengah keterbatasan, kebersamaan tetap tumbuh subur. Harapan baru mulai bersemi: semoga suatu hari nanti jalan mulus, hasil tani mengalir deras, dan setiap petani di desa bisa menikmati hasil jerih payah mereka dengan layak.

infrastruktur jalan pertanian TNI musyawarah
Terkait
  • Topik: infrastruktur jalan, pertanian, TNI, musyawarah
  • Tokoh: Hendra
  • Organisasi: TNI, Koramil, pemerintah daerah
  • Tempat: Wolowaru, NTT

Artikel terkait