Di Desa Bojongsoang, Kabupaten Bandung, ada satu jalan yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan warga. Jalan itu rusak parah—lubang-lubang menganga menghiasi aspal yang sudah hancur, membuat setiap kendaraan harus berhati-hati. Para petani paling merasakan dampaknya: mereka kesulitan mengangkut hasil panen sayuran dan buah-buahan ke pasar, takut barang dagangan rusak di perjalanan. Keluhan demi keluhan terdengar di setiap sudut desa, hingga akhirnya seorang Babinsa bernama Serka Edi datang saat sambang rutin. Beliau tidak hanya sekadar mendengar, tapi langsung mencatat setiap aspirasi warga yang disampaikan dengan hati.
Babinsa: Telinga yang Mendengar, Tangan yang Bergerak
Serka Edi tahu bahwa jalan rusak bukan hanya soal infrastruktur, tapi menyangkut hidup banyak orang. Maka, tanpa menunda, ia melaporkan keluhan warga ke Dandim. Dalam waktu sepekan, alat berat milik TNI sudah dikerahkan ke Desa Bojongsoang. Warga pun tak tinggal diam. Dengan semangat gotong royong, mereka membantu mengangkut batu dan pasir untuk meratakan jalan. “Kami tidak hanya dirikan tembok, tapi juga perbaiki akses ekonomi,” ujar Serka Edi dengan senyum bangga. Kehadiran Babinsa benar-benar menjadi jembatan antara rakyat dan negara, tempat suara kecil desa didengar dan diwujudkan.
Gotong Royong: Membangun Akses, Merajut Harapan
Proses perbaikan jalan berlangsung dengan hangat. Warga berbondong-bondong membawa peralatan sederhana, sementara alat berat TNI menggusur timbunan tanah. Suasana kebersamaan terasa begitu kental. Kini, setelah jalan mulus kembali, petani bisa mengangkut hasil panen tanpa rasa cemas. Manfaatnya langsung terasa:
- Petani dapat menjual sayuran ke pasar tanpa khawatir barangnya rusak di jalan berlubang.
- Akses ekonomi menjadi lancar, harga jual hasil panen lebih stabil karena cepat sampai ke pembeli.
- Semangat gotong royong kembali hidup, mengingatkan warga akan kekuatan kebersamaan.
- Anak-anak sekolah pun lebih aman saat berangkat, tak lagi terhambat genangan lumpur.
Pak Kades tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Terima kasih Pak Tentara, Bapak mendengar suara kami,” ucapnya sambil menggenggam tangan Serka Edi. Kata-kata sederhana itu mewakili isi hati seluruh warga Desa Bojongsoang. Di balik proyek perbaikan jalan, ada cerita tentang kedekatan antara TNI dan rakyat. Sebuah kisah yang mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering lahir dari keluhan kecil yang didengar dengan hati. Kini, jalan di Bojongsoang bukan sekadar aspal mulus, melainkan simbol bahwa suara warga desa selalu berarti. Dan di setiap lekuk jalan itu, ada harapan baru yang terus tumbuh bersama semangat gotong royong.