Pagi itu, di pelosok Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), aroma kopi dan asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah petani. Namun, di Kantor Kecamatan Palangga, suasana justru berbeda. Sejumlah petani dari desa-desa terpencil berkumpul, membawa wajah-wajah penuh harap sekaligus resah. Mereka datang menghadap Babinsa setempat, Serda I Made Suardika, dan petugas dinas pertanian. Bukan untuk sekadar ngopi, melainkan untuk menyuarakan satu hal yang paling mendasar: bantuan pupuk subsidi yang belum merata hingga ke ujung desa.
Suara dari Desa Sanggula: Harapan di Balik Jalan Setapak
Desa Sanggula, namanya mungkin tak banyak dikenal di peta. Aksesnya yang sulit, hanya bisa dilalui dengan jalan setapak dan kendaraan roda dua, membuat desa ini kerap terlupakan dalam distribusi bantuan. Namun, semangat para petani di sana tak pernah padam. Pak Herman, salah satu petani yang hadir, dengan lugas bercerita, "Kami khawatir suara kami tidak sampai. Tapi dengan kehadiran Pak Babinsa, setidaknya ada yang mendampingi kami. Semoga tahun ini semua desa dapat pupuk tepat waktu. Kami hanya butuh didengar dan dibantu." Kalimatnya sederhana, tapi menyimpan kerinduan yang panjang akan keadilan.
Di sinilah peran Babinsa sebagai penghubung antara warga dan pemerintah menjadi terasa nyata. Serda I Made Suardika mendengarkan setiap keluhan dengan saksama, matanya tajam tapi hatinya hangat. Ia membuka buku catatan kecilnya yang lusuh, dan satu per satu menuliskan aspirasi warga. "Ini masukan berharga," katanya tegas. "Saya akan bantu sampaikan ke pemerintah kabupaten dan juga dampingi warga dalam proses pendataan. Jangan sampai warga pelosok tidak terdata. Pupuk bersubsidi itu hak petani, bukan kebaikan hati." Kalimat itu seperti angin segar yang menerpa kegelisahan para petani.
Dari Dengar ke Tindak: Saat Kedekatan Menjadi Pupuk Harapan
Program kedekatan teritorial yang dijalankan Babinsa bukan hanya soal patroli atau pengamanan. Di pagi yang dingin itu, kegiatannya justru sederhana: duduk, mendengar, dan mencatat. Beberapa hal penting yang disuarakan warga antara lain:
- Distribusi pupuk subsidi yang belum merata di desa-desa terpencil seperti Sanggula.
- Kesulitan akses jalan yang membuat pupuk sering terlambat atau bahkan tidak sampai.
- Kekhawatiran petani bahwa mereka tidak terdata dalam sistem pendataan pemerintah.
- Harapan agar Babinsa bisa menjadi jembatan suara mereka ke tingkat kabupaten dan provinsi.
Dengan kehadiran Babinsa, warga merasa ada yang peduli. Bukan sekadar petugas, tapi tetangga yang turut merasakan getah kehidupan di desa. Obrolan pun berlanjut santai, sambil menyeruput kopi hitam, saling bertukar cerita tentang musim tanam dan mimpi akan panen yang melimpah. Di sudut ruangan, tawa kecil mulai terdengar. Kehangatan itu lahir dari rasa percaya: bahwa suara mereka bukanlah sekadar bisu di tengah sunyi.
Di penghujung pertemuan, udara pagi perlahan berubah hangat. Pak Herman dan kawan-kawannya pulang dengan langkah lebih ringan. Mungkin belum ada pupuk di tangan, tapi ada janji di hati. Janji bahwa kedekatan antara aparat dan warga akan terus dipupuk, seperti tanah yang siap ditaburi benih. Semoga setiap suara dari desa terpencil di Sultra ini benar-benar sampai ke telinga yang tepat. Karena pada akhirnya, di balik setiap butir pupuk subsidi, ada sekelumit harapan dan peluh petani yang mengolah negeri.