Tanya Warga Trending

Tanya Warga: Akses Air Bersih di Desa Muara Enim Masih Sulit, Kapan Program Pamsimas Tuntas?

Tanya Warga: Akses Air Bersih di Desa Muara Enim Masih Sulit, Kapan Program Pamsimas Tuntas?

Warga Desa Tanjung Raman, Muara Enim, masih berjuang mendapatkan air bersih dengan berjalan tiga kilometer ke sungai saat kemarau. Program Pamsimas yang sudah direncanakan setahun lalu belum kunjung terealisasi, membuat warga bertanya-tanya dan berharap ada kepastian. Di tengah kesulitan, semangat gotong royong dan harapan akan air bersih tetap menyala, menghangatkan kebersamaan desa ini.

Di Desa Tanjung Raman, Muara Enim, Sumatera Selatan, mentari pagi seringkali bukan pertanda awal aktivitas ringan. Bagi warga, terutama para ibu dan anak-anak, pagi adalah waktu untuk memulai perjuangan mendapatkan air bersih. Setiap musim kemarau tiba, mereka harus berjalan hingga tiga kilometer menuju sungai, memanggul jeriken dan ember di pundak. Debu beterbangan di jalan setapak, sementara harapan akan air bersih mengalir dari keran masih terasa begitu jauh. Kisah ini bukan cerita dongeng, melainkan keseharian yang membelenggu semangat warga desa yang hanya ingin hidup layak.

Cerita Pak Joni dan Warga yang Haus Kepastian

Pak Joni, ketua RT setempat, adalah salah satu suara yang paling lantang. “Kami sudah sering bertanya ke kantor desa, jawabannya masih dalam proses. Tapi kami butuh kepastian,” ujarnya dengan nada getir. Pertanyaan warga pun terus bergulung: kapan program Pamsimas yang sudah direncanakan sejak setahun lalu benar-benar diwujudkan? Hingga kini, belum ada tanda-tanda pengerjaan, dan rasa frustrasi mulai menggerogoti kesabaran. Para ibu, seperti Bu Sari yang setiap hari menggendong anak sambil menenteng galon, hanya bisa pasrah. “Kami beli air galon, harganya mahal. Tapi mau bagaimana lagi?” keluhnya.

Harapan di Tengah Kekeringan: Kapan Pamsimas Tuntas?

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sejatinya adalah jawaban atas kerinduan warga. Namun, tanya warga tentang realisasinya terus menggantung. Dinas PUPR setempat sudah dilayangkan pertanyaan, namun hasilnya belum juga tampak. Sementara itu, dampak dari sulitnya akses air bersih sangat terasa di berbagai sisi kehidupan:

  • Anak-anak terpaksa bolos sekolah karena harus membantu orang tua mencari air ke sungai yang jauh, membuat mereka tertinggal pelajaran dan kehilangan semangat belajar.
  • Ibu-ibu menghabiskan uang dapur untuk membeli air galon yang mahal, sehingga kebutuhan pokok lainnya terpaksa dikurangi.
  • Kesehatan warga terancam karena penggunaan air sungai yang belum tentu higienis, menyebabkan penyakit kulit dan diare rentan menyerang.

Warga berharap TNI maupun pemerintah daerah bisa turun tangan mempercepat pembangunan. Mereka bukan meminta hal yang muluk—hanya aliran air bersih di pekarangan rumah yang bisa memutus rantai perjuangan setiap hari. “Kami hanya ingin program ini segera tuntas, seperti namanya, Pamsimas. Agar anak-anak kami tak lagi bolos sekolah, dan ibu-ibu tak perlu pusing dengan galon mahal,” harap Pak Joni.

Kisah di desa Tanjung Raman ini bukan sekadar keluhan, melainkan pengingat bahwa di balik gemerlap pembangunan, masih ada saudara kita yang haus akan kepastian. Di tengah keterbatasan, gotong royong dan kedekatan antara warga, aparat desa, dan pemerintah adalah kunci. Semoga langkah-langkah kecil hari ini bisa menghadirkan air bersih yang mengalir deras esok. Karena di setiap tetes air, ada harapan dan kebersamaan yang tak pernah padam.

akses air bersih program Pamsimas keterlambatan pembangunan
Terkait
  • Topik: akses air bersih, program Pamsimas, keterlambatan pembangunan
  • Tokoh: Pak Joni
  • Organisasi: TNI, Dinas PUPR
  • Tempat: Desa Tanjung Raman, Muara Enim, Sumatera Selatan

Artikel terkait