Di sebuah sudut Desa Tanjung Baru, Muara Enim, Sumatera Selatan, hiduplah Mbah Sutarto—seorang lansia berusia 70 tahun yang lebih akrab disapa Mbah To. Selama berpuluh-puluh tahun, ia bertahan di dalam rumah berdinding anyaman bambu yang nyaris roboh dan atap yang selalu bocor ketika hujan turun. Namun kini, segalanya berubah. Melalui program bedah rumah TNI, Mbah To akhirnya memiliki rumah layak huni yang kokoh, bersih, dan menyehatkan. Senyumnya merekah setiap kali menatap dinding bata dan lantai semen yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Menjelma Impian dari Gotong Royong
Dulu, setiap tetes hujan adalah mimpi buruk bagi Mbah To. Air merembes dari atap, membasahi seluruh ruangan, dan membuatnya harus bertahan dalam dingin dan lembap. Tapi program bedah rumah yang digagas Kodim 0404/Muara Enim mengubah segalanya. Sebanyak 15 prajurit TNI turun langsung ke desa, bekerja tanpa lelah selama tiga minggu penuh—merobohkan dinding rapuh, memasang tiang baru, hingga memasang genteng rapi. Warga desa pun tak tinggal diam. Mereka bergotong royong membawa makanan, minuman, dan membantu mengangkat material bangunan. “Gotong royong masih hidup di sini,” ujar Pak Karta, tetangga Mbah To, dengan bangga. Kisah ini menjadi bukti bahwa bedah rumah TNI bukan hanya soal bangunan, tapi juga tentang mempererat tali silaturahmi antara prajurit dan masyarakat.
Harapan Baru untuk Lansia di Pelosok
Program ini bukan sekadar proyek fisik. Lebih dari itu, ini adalah wujud nyata kedekatan TNI dengan masyarakat Desa Tanjung Baru, Muara Enim. Komandan Kodim 0404/Muara Enim, Letkol Inf. Dwi Cahyono, menegaskan bahwa prioritas utama adalah warga kurang mampu, terutama para lansia yang sering terpinggirkan. “Rumah adalah kebutuhan dasar. Kami tidak akan berhenti di sini,” katanya. Rencananya, program serupa akan menyasar desa-desa lain di Muara Enim. Berikut manfaat langsung yang dirasakan Mbah Sutarto setelah rumahnya direnovasi:
- Dinding rumah kini dari bata dan semen yang kokoh, bukan lagi anyaman bambu rapuh.
- Atap baru yang rapat membuatnya tak lagi kebanjiran saat hujan deras.
- Lantai semen yang bersih membuat Mbah To bisa berjalan nyaman tanpa khawatir terpeleset.
- Rumah layak huni yang menyehatkan, jauh dari kelembapan dan penyakit.
Mbah Sutarto tak kuasa menahan haru. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Saya tidak nyangka dapat rumah bagus di usia tua. Dulu kalau hujan, semua basah. Sekarang bisa tidur nyenyak.” Ungkapan sederhana itu menyiratkan betapa besarnya perubahan yang terjadi. Kini, setiap malam ia bisa tidur dengan tenang. Pekarangan kecilnya mulai ditanami sayur-sayuran yang dulu sulit tumbuh karena tanah becek. Kehidupannya perlahan kembali ceria. Cerita Mbah To adalah bukti bahwa bedah rumah TNI bukanlah sekadar program, melainkan jembatan kehangatan antara prajurit dan warga desa. Di balik dinding bata dan atap baru, ada semangat gotong royong yang tak pernah padam. Di pelosok Muara Enim, secercah harapan terus menyala—mengingatkan kita semua bahwa kebersamaan adalah rumah layak huni terindah bagi siapa pun. Mbah To tersenyum, dan senyum itu menular ke seluruh kampung.