Kabar Desa Kita Trending

Mabes TNI Duduk Bareng Warga Adat Kapuas Hulu, Sosialisasi Karhutla dengan Kearifan Lokal

Mabes TNI Duduk Bareng Warga Adat Kapuas Hulu, Sosialisasi Karhutla dengan Kearifan Lokal

Di Desa Pala Kota, Kapuas Hulu, TNI duduk santai bersama warga adat di bawah pohon rindang untuk sosialisasi karhutla. Dengan pendekatan hangat dan menghargai kearifan lokal, mereka berdiskusi tentang cara menjaga hutan tanpa meninggalkan tradisi. Pertemuan ini menjadi contoh bahwa kebersamaan dan gotong royong adalah kunci utama dalam melindungi lingkungan.

Pagi itu di Desa Pala Kota, Kabupaten Kapuas Hulu, udara segar dan rindangnya pohon-pohon menyambut hari yang berbeda dari biasanya. Warga desa tak berkumpul untuk rapat formal, melainkan duduk santai di bawah pohon besar, ditemani kopi dan senyum ramah. Kejutan pun tiba: Tim dari Markas Besar TNI hadir, bukan dengan seragam tegap atau instruksi keras, melainkan dengan obrolan akrab dan hati yang ingin mendengar. Topik perbincangan mereka sederhana tapi penting — cara menjaga hutan dan lahan dari api tanpa meninggalkan adat istiadat yang sudah diwariskan turun-temurun.

Menyapa Hati Masyarakat Adat dengan Kearifan Lokal

Letkol Beny, pemimpin tim sosialisasi dari Mabes TNI, memilih pendekatan yang jauh dari kesan komando. Ia tahu bahwa masyarakat adat di Kapuas Hulu memiliki kearifan lokal yang kuat dalam mengelola lahan. Alih-alih langsung melarang aktivitas membakar, ia justru mengajak warga bicara dari hati ke hati. “Bapak-Ibu, musim kemarau masih panjang. Kita tunda dulu aktivitas membakar lahannya,” ucapnya lembut, disambut anggukan warga. Kehangatan semakin terasa ketika TNI membawa surat imbauan resmi dari Majelis Adat Dayak Nasional (MADN). Dengan begitu, masyarakat adat merasa bahwa tradisi mereka dihargai, bukan dilangkahi.

Pendekatan ini membuka ruang dialog dua arah. Warga tidak hanya menerima imbauan, tetapi juga bisa menyampaikan aspirasi dan keluh kesah mereka. Suasana pun menjadi cair, penuh saling menghargai. Kepala Desa Pala Kota, Aki, menyambut hangat cara TNI ini. Namun dengan bijak, ia mengingatkan bahwa kebijakan penanganan karhutla harus tetap melindungi hak-hak masyarakat hukum adat, sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. “Kami ingin menjaga hutan, tapi jangan sampai hak kami hilang,” katanya tegas tapi bersahabat.

Dari pertemuan yang menghangatkan hati ini, ada beberapa hal istimewa yang bisa kita petik:

  • Dialog dua arah yang setara — Warga bukan cuma didengar, tapi juga dilibatkan dalam diskusi, bukan sekadar menjadi pendengar.
  • Penghormatan pada lembaga adat — Dengan melibatkan Majelis Adat Dayak Nasional, TNI menunjukkan bahwa adat adalah mitra, bukan penghalang dalam menjaga lingkungan.
  • Solusi berbasis kondisi lokal — Imbauan untuk menunda pembakaran disesuaikan dengan musim kemarau setempat, bukan aturan kaku dari pusat.

Gotong Royong Menjaga Hutan, Warisan Leluhur Tetap Terjaga

Di akhir pertemuan, Letkol Beny berjabat tangan satu per satu dengan warga. Bukan sekadar formalitas, melainkan tanda bahwa hubungan antara TNI dan masyarakat adat sudah seperti keluarga. Warga pun pulang dengan senyum, membawa pesan bahwa menjaga hutan bukan sekadar soal aturan, melainkan soal gotong royong dan rasa saling memiliki. Seperti kata seorang tetua adat: “Api memang bisa membersihkan, tapi kebersamaanlah yang akan menjaga kita tetap hangat tanpa terbakar.” Cerita dari Desa Pala Kota ini menjadi bukti nyata bahwa sosialisasi karhutla bisa dilakukan dengan cara yang santun, dekat dengan kearifan lokal, dan penuh rasa kekeluargaan.

karhutla sosialisasi kearifan lokal
Terkait
  • Topik: karhutla, sosialisasi, kearifan lokal
  • Tokoh: Letkol Beny, Aki
  • Organisasi: Mabes TNI, Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), TNI
  • Tempat: Desa Pala Kota, Kapuas Hulu

Artikel terkait