Di Kampung Kendetapa, Kabupaten Intan Jaya, suara riuh rendah obrolan hangat mewarnai pegunungan yang sunyi. Minggu pagi itu, para prajurit Satgas Yonif 113/Jaya Sakti duduk melingkar bersama warga. Bukan sekadar bertanya kabar, mereka hadir untuk mendengar langsung apa yang selama ini mengganjal di hati masyarakat. Ternyata, keluhan terbesar warga adalah soal akses transportasi yang masih sangat terbatas — jalanan rusak dan sulit dilalui kendaraan. Hal ini menjadi kendala pemasaran hasil bumi seperti sayur dan ubi, yang sering kali busuk sebelum sampai ke pasar. Di sinilah dialog warga menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan.
Mendengar Suara dari Jantung Kendetapa
Komandan Pos Kendetapa, Kapten Inf Doriman Rajagukguk, dengan hati lapang menampung setiap uneg-uneg. “Kami ingin mendengar langsung kebutuhan warga, agar bisa mencari solusi bersama,” ujarnya di sela-sela diskusi. Warga pun merasa dihargai — mereka tak lagi berbisik di dapur, tapi bisa bicara terbuka di depan prajurit yang menjaga mereka. Suasana semakin akrab ketika seorang ibu tua bercerita tentang jerih payahnya membawa hasil kebun ke desa tetangga. Akses jalan yang berbatu dan licin saat hujan membuat perjalanan menjadi sangat berat. Keluhan ini bukan sekadar keluhan; ia adalah panggilan gotong royong untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Bukan Sekadar Obrolan, Tapi Jembatan Harapan
Kegiatan komsos ini lebih dari sekadar rutinitas. Ia adalah bukti bahwa TNI peduli pada denyut ekonomi dan kesejahteraan warga. Beberapa hal yang menjadi sorotan dalam dialog tersebut antara lain:
- Dialog Warga yang membahas akses transportasi dari Kendetapa ke pasar di kota kecamatan.
- Kendala Pemasaran akibat jalan rusak yang membuat harga jual hasil bumi menurun drastis.
- Intan Jaya sebagai daerah pegunungan yang membutuhkan perhatian lebih dalam infrastruktur.
- Peran aktif prajurit yang siap membantu memperbaiki jalan bersama masyarakat.
Warga menyambut hangat inisiatif ini. Pak Markus, salah satu petani, berkata dengan penuh haru, “Kami bersyukur prajurit mau mendengar. Selama ini kami merasa sendiri, sekarang ada yang peduli.” Semangat kebersamaan pun tumbuh. Bukan hanya soal jalan, tetapi tentang keyakinan bahwa setiap keluhan akan ditindaklanjuti. Komsos menjadi wadah yang menghangatkan hati, mengingatkan bahwa di balik seragam hijau, ada saudara setanah air yang siap bahu-membahu.
Matahari kian meninggi di atas Kendetapa, namun kehangatan obrolan tak kunjung padam. Senyum merekah di wajah warga, seolah memberi isyarat bahwa harapan untuk akses jalan yang lebih baik bukan lagi angan. Lewat kegiatan seperti ini, tali persaudaraan antara TNI dan masyarakat semakin kuat. Dan di kampung kecil di Intan Jaya itu, mereka belajar bahwa bersama-sama, tak ada rintangan yang tak bisa dilewati. Selamat berjuang, warga Kendetapa — jalan mulus menanti di ujung gotong royong.