Udara pagi di Kecamatan Batu Engau masih basah oleh sisa hujan semalam. Di sebuah balai desa yang sederhana, belasan pemuda berkumpul dengan wajah penuh semangat. Mereka bukan sekadar nongkrong, melainkan mengikuti pelatihan relawan kebencanaan yang digelar Kodim 0909 Paser. Sebanyak 40 pemuda desa dari lima daerah rawan banjir dan longsor datang membawa tekad besar: menjaga kampung mereka sendiri. Bagi mereka, pelatihan ini bukan kegiatan formal biasa, melainkan bekal berharga untuk menghadapi kapan pun bencana datang.
Dari Bambu Jadi Tandu, Kearifan Lokal Jadi Senjata Lawan Bencana
Dalam latihan ini, para pemuda diajarkan berbagai keterampilan penting. Mulai dari teknik evakuasi korban, pertolongan pertama pada kecelakaan, hingga cara membuat tandu darurat dari bambu. Kegiatannya dikemas dengan praktik langsung, bukan sekadar dengar ceramah. “Kami latih dengan simulasi, supaya mereka tidak panik saat kejadian nyata,” ujar Sersan Dua Agus, instruktur pelatihan TNI ini. Tangan-tangan cekatan mulai merajut bilah bambu menjadi tandu darurat, sesekali diselingi tawa dan canda khas anak muda. Keterampilan sederhana ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa jadi senjata tangguh saat bencana melanda.
TNI Duduk Satu Lantai, Hapus Jarak dengan Warga
Yang bikin hangat, pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu. Lebih dari itu, TNI hadir sebagai sahabat yang dekat dengan warga. Mereka ikut duduk di lantai balai, makan siang bersama, dan mendengar cerita warga tentang tinggi muka air sungai saat musim hujan. Kedekatan ini membuat warga merasa tidak sendiri dalam menghadapi ancaman bencana. Andi (22) dari Desa Rantau Panjang, salah satu peserta, mengaku banyak mendapat ilmu berharga. “Sekarang saya tahu cara evakuasi korban yang benar. Semoga ilmu ini tidak harus dipakai, tapi lebih baik siap,” katanya penuh semangat. Perkataan Andi menggambarkan harapan besar yang dipikul anak-anak muda desa ini.
Manfaat dari pelatihan ini langsung terasa. Para pemuda desa tak hanya mendapat teori, tetapi juga keterampilan yang bisa dipakai kapan saja:
- Mereka paham cara evakuasi korban yang aman dan benar.
- Mereka mampu membuat tandu darurat dari bambu saat peralatan terbatas.
- Simulasi yang digelar melatih kesiapan mental agar tidak panik di kondisi nyata.
- Terjalin kedekatan antara TNI dan pemuda desa sebagai wujud gotong royong.
Di balik latihan dan simulasi, yang paling utama adalah tumbuhnya rasa kepedulian. Pemuda desa bukan lagi penonton saat bencana datang, melainkan relawan yang siap bahu-membahu menolong sesama. Semoga semangat ini terus menyala di setiap desa, menjadi lilin yang menerangi ketika keadaan gelap. Meski banjir dan longsor selalu mengintai, kebersamaan yang terlatih di balai desa ini akan menjadi benteng yang paling kokoh.