Pagi itu, mentari baru saja menyapa ufuk timur, menyinari hamparan sawah yang masih basah oleh embun. Di sebuah posyandu desa yang sederhana, dindingnya dihiasi poster warna-warni tentang gizi dan imunisasi, para ibu mulai berdatangan. Ada yang menggendong bayi mungil, ada pula yang menuntun balitanya yang berlari-lari kecil. Suara riang anak-anak bercampur dengan celoteh para ibu yang saling bertanya kabar. Tak lama, seorang pria berseragam loreng muncul di pintu masuk. Senyumnya ramah, sapanya hangat. Ia bukan wajah asing—dia adalah Babinsa dari Kodim setempat, sudah seperti saudara bagi warga desa ini. Hari itu, ia datang bukan untuk urusan keamanan, melainkan untuk duduk bersama dan berbicara tentang stunting, masalah yang sangat dekat dengan keseharian para ibu.
Duduk Melingkar, Babinsa Jadi Teman Curhat Ibu-Ibu Desa
Babinsa itu tidak langsung berdiri di depan papan tulis. Justru, ia mengambil tempat di tengah lingkaran ibu-ibu, ikut duduk di atas tikar anyaman bambu. Seorang balita yang mulai rewel langsung ia gendong, membuat si kecil tersenyum lepas. "Anak-anak kita harus sehat, Bu. Jangan sampai kekurangan gizi," katanya dengan nada lembut, seperti seorang kakak yang memberi nasihat. Ibu-ibu pun semakin akrab—tak sungkan bertanya soal menu MPASI yang murah namun bergizi, atau cara mengatasi anak yang susah makan. Suasana posyandu desa itu berubah jadi ruang curhat hangat. Salah seorang ibu, Bu Rina, berkata dengan mata berkaca-kaca, "Kami jadi lebih paham sekarang. Terima kasih, Pak Babinsa, sudah peduli dengan anak-anak kami." Kehangatan itu terasa nyata—tidak ada sekat antara seragam loreng dan kain jarik. Melalui momen ini, warga desa merasa bahwa program pemerintah bukanlah sesuatu yang asing, melainkan dibawa langsung oleh sahabat mereka.
Dalam penyuluhan itu, Babinsa merinci beberapa hal penting yang perlu diperhatikan para ibu untuk mencegah stunting. Dengan bahasa sederhana dan penuh contoh nyata dari keseharian, ia menyampaikan:
- Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, lalu dilanjutkan MPASI bergizi seimbang. "Kalau anak susah makan, bisa dicoba bikin bubur dengan campuran sayur dan telur," usul Babinsa sambil tersenyum.
- Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal di posyandu desa. Ia juga mengingatkan jangan sampai terlewat karena imunisasi penting banget buat daya tahan tubuh.
- Menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat, termasuk membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum makan. "Kuman penyakit itu diam-diam bisa ganggu tumbuh kembang anak," jelasnya.
- Memantau tumbuh kembang anak secara rutin setiap bulan di posyandu, agar kalau ada masalah gizi bisa segera diatasi.
Tak hanya teori, Babinsa juga berbagi cerita dari desa tetangga yang angka stuntingnya berhasil turun berkat kerja bareng semua pihak. Ibu-ibu makin semangat—mereka merasa tidak sendiri dalam perjuangan ini. Salah satu ibu bertanya tentang cara membuat bubur kacang hijau yang disukai anak, dan Babinsa dengan sabar menjawab sambil mencontohkan gerakan mengaduk. Tawa pun pecah ketika seorang balita tiba-tiba ikut mengaduk-aduk udara.
Gotong Royong Lawan Stunting, Demi Anak Desa yang Kuat dan Cerdas
Kegiatan penyuluhan ini bukan acara seremonial belaka. Ia adalah bagian nyata dari dukungan TNI, melalui para Babinsa, terhadap program pemerintah pusat dan desa dalam menekan angka stunting. Di desa ini, Babinsa dari Kodim tidak hanya hadir saat ada masalah keamanan, tapi juga aktif dalam setiap langkah pembangunan—termasuk kesehatan ibu dan anak. Kepala desa setempat pun turut hadir, duduk di samping para ibu, mendengarkan dan mencatat masukan. "Kami bersyukur sekali. Babinsa seperti bagian dari keluarga besar desa. Beliau selalu siap membantu," ujar Pak Kades dengan bangga.
Hari itu, mentari semakin tinggi, namun kehangatan di posyandu belum surut. Ibu-ibu pulang dengan senyum dan bekal pengetahuan baru. Mereka berjanji akan datang rutin ke posyandu dan saling mengingatkan soal gizi anak. Di sudut ruangan, Babinsa masih bercengkrama dengan beberapa ibu yang belum pulang. Salah seorang ibu berkata, "Nanti kita bikin kelompok memasak MPASI, Pak. Biar anak-anak desa kita semua sehat dan cerdas." Babinsa mengangguk penuh semangat, matanya berbinar. Seperti itulah gotong royong desa—dari lingkaran tikar posyandu, lahir harapan baru untuk anak-anak yang kelak akan menjadi generasi kuat dan cerdas. Karena di desa ini, tak ada yang berjuang sendirian.