Di sebuah desa di Sumatra Barat, bau tanah basah dan suara gemericik air di lereng bukit jadi pengiring pagi yang sibuk. Puluhan warga sudah berkumpul sejak fajar, membawa cangkul dan ember. Mereka bukan hendak ke sawah atau kebun, melainkan menuju lahan kritis seluas 10 hektar yang selama ini hanya ditumbuhi semak belukar. Hari itu, Minggu yang cerah, mereka punya misi besar: menghijaukan kembali tanah yang hampir kehilangan nyawa. Dipimpin oleh Babinsa setempat, Sertu Budi, warga bergotong royong menanam 5.000 bibit pohon mahoni dan sengon. Suasana akrab langsung terasa—ada yang saling berteriak 'ayo, nak, tanam lebih dalam!' sambil tertawa. Buat warga desa, kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tapi acara kumpul-kumpul yang meriah.
Menanam Pohon, Menahan Longsor, Menghidupkan Harapan
Lahan kritis di lereng bukit ini dulu gundul karena penebangan liar. Setiap kali hujan deras turun, tanah merah mudah longsor dan menghanyutkan apa saja yang dilaluinya. Sertu Budi, dengan sabar dan dekat, terus mengingatkan warga akan bahaya itu. "Kita tanam pohon hari ini, besok anak cucu kita yang menikmati," katanya sambil menyodorkan bibit ke seorang bapak tua. Pak Dullah, petani kopi yang rumahnya persis di kaki bukit, ikut serta sambil becerita. "Dulu saya lihat tanah ini gundul, sedih rasanya. Sekarang kami sadar—menanam pohon itu seperti menabung untuk masa depan," ujarnya. Ia juga bercerita bahwa Babinsa tak cuma datang saat acara besar, tapi rutin mampir ke rumah-rumah warga, ngopi, dan ngobrol soal pentingnya menjaga hutan.
Ada beberapa manfaat langsung yang dirasakan warga dari kegiatan tanam pohon ini:
- Mencegah longsor: Akar pohon mahoni dan sengon kuat mencengkeram tanah, mengurangi risiko tanah longsor saat hujan deras.
- Hasil kayu jangka panjang: Pohon sengon bisa dipanen dalam 5–7 tahun, memberikan tambahan pendapatan bagi desa.
- Udara lebih sejuk: Warga mulai merasakan perbedaan suhu di sekitar desa setelah beberapa bulan penghijauan.
- Kedekatan dengan TNI: Babinsa bukan sekadar aparat, tapi sahabat yang mengayomi dan mendampingi warga di setiap langkah.
Pohon, Kopi, dan Makan Siang Bersama
Tak hanya menanam, acara ini juga diakhiri dengan makan siang bersama dari hasil bumi desa—nasi hangat, ikan asin, sambel ijo, dan kopi tubruk. Mereka duduk lesehan di bawah tenda darurat, saling menyuapi dan tertawa. Suasana hangat itu seperti mengingatkan bahwa gotong royong bukan hanya tradisi, tapi napas kehidupan warga desa. Sertu Budi duduk di tengah-tengah, sesekali mengusap keringat di dahinya. "Kita semua sama, Pak. Saya juga anak desa. Makanya jangan sungkan kalau ada masalah, panggil saja," katanya sambil menepuk bahu Pak Dullah. Warga yang tadinya ragu kini malah bersemangat merawat bibit-bibit itu. Mereka bergiliran menyiram dan membersihkan area tanam setiap minggu.
Dari lereng bukit itu, suara ketukan cangkul dan tawa warga terus menggema. Lahan kritis perlahan berubah jadi hamparan harapan. Babinsa dan warga desa membuktikan bahwa dengan kebersamaan, tanah yang dulu gundul bisa kembali hidup. Semangat gotong royong ini bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam rasa saling percaya dan cinta pada kampung halaman. Di tengah panasnya matahari Sumatra Barat, mereka tersenyum—karena tahu, setiap bibit yang tertanam adalah janji untuk masa depan yang lebih hijau dan lebih hangat. Dan itu, semua dimulai dari satu langkah kecil bersama.