Hujan belum juga reda di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Rintik air yang turun sejak subuh mengguyur tanah merah, mengubah jalan setapak sepanjang dua kilometer menjadi lumpur licin yang becek. Setiap pagi, anak-anak yang hendak berangkat sekolah harus ekstra hati-hati, takut terpeleset, sementara sepatu mereka penuh lumpur. Para petani pun mengeluh saat hendak membawa hasil panen dari ladang, jalan yang amat dibutuhkan justru menjadi penghalang. Musim hujan memang selalu menjadi momok, tapi di balik kesulitan itu, ada satu ruang yang selalu hangat untuk menampung aspirasi warga Kampung Naga: Kopi Bareng TNI.
Kopi Bareng TNI: Wadah Aspirasi yang Tak Berjarak
Setiap dua minggu sekali, balai desa berubah menjadi ruang keakraban antara TNI dan warga. Acara yang akrab disebut Kopi Bareng TNI ini menjadi ajang bercerita, berkeluh kesah, dan merajut harapan. Pada pertemuan kali ini, bapak-bapak dengan tangan berkapur, ibu-ibu yang baru pulang dari ladang, dan para pemuda duduk melingkar sambil menyeruput kopi hangat. Suasana terasa akrab, tanpa sekat antara seragam coklat dan pakaian adat. Babinsa Sertu Wawan dengan sabar mendengarkan setiap suara yang mengalir. Seorang warga berkata, “Pak Babinsa, jalan menuju kebun kami sudah seperti sawah.” Lainnya menimpali, “Anak-anak sering terjatuh kalau hujan, Pak. Sepatu mereka penuh lumpur, kadang sampai telat sampai sekolah.” Keluhan-keluhan ini dicatat dengan saksama oleh Sertu Wawan.
Berikut beberapa aspirasi utama yang mengemuka dalam pertemuan hangat tersebut:
- Perbaikan jalan rusak sepanjang dua kilometer yang menjadi akses utama menuju ladang, sekolah, dan pemukiman warga.
- Kekhawatiran akan keselamatan anak-anak saat berangkat sekolah di musim hujan, banyak yang hampir tergelincir dan sepatu mereka penuh lumpur.
- Harapan agar hasil panen petani bisa dibawa tanpa khawatir tergelincir di jalan berlumpur, sehingga roda angkutan tidak tersendat.
- Keinginan untuk gotong royong membangun infrastruktur desa bersama TNI, karena warga percaya kebersamaan adalah kunci perubahan.
Harapan Baru Lewat Program TMMD
Setelah semua suara tertampung, Sertu Wawan menjelaskan bahwa usulan perbaikan jalan rusak ini akan dibawa ke Kodim 0612 Tasikmalaya. Rencananya, akan diusulkan melalui program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa). “TMMD itu program kebersamaan, nanti kita gotong royong membangun jalan ini bersama-sama,” ujarnya dengan senyum menenangkan. Warga pun mengangguk lega. Pak Asep, sesepuh Kampung Naga, mewakili warganya menyampaikan terima kasih. “TNI selalu terbuka mendengar kami. Bukan hanya soal jalan, tapi juga soal kehidupan kami. Ini bukan sekadar program, ini sudah seperti keluarga,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Kehadiran TNI di tengah warga bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai sahabat yang peduli.
Perbaikan jalan bukan sekadar soal akses, melainkan tentang martabat dan rasa aman. Dengan gotong royong bersama TNI, warga Kampung Naga kini kembali memupuk harapan. Anak-anak bisa berangkat sekolah dengan tenang, petani bisa mengangkut hasil panen tanpa rasa cemas, dan desa pun terasa lebih hidup. Semua ini berawal dari secangkir kopi hangat dan obrolan akrab yang penuh kehangatan. Kampung Naga memang desa yang kaya akan budaya, tapi kini juga kaya akan kebersamaan. Semoga langkah kecil ini menjadi awal perubahan besar, dan TNI terus hadir sebagai pelindung yang selalu ada di hati rakyat.