Di sebuah dusun terpencil di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, suara riang anak-anak kini kembali bergema dari ruang kelas baru yang kokoh. Setahun lalu, banjir besar merobohkan satu-satunya sekolah dasar di desa ini. Selama berbulan-bulan, anak-anak harus belajar di tenda darurat yang bocor saat hujan deras. Wajah kecil mereka tetap semangat, tapi hati para orang tua dan guru teriris melihat kondisi yang memprihatinkan. Namun, dari puing-puing itulah lahir sebuah gerakan yang membangkitkan semangat seluruh kampung: gotong royong membangun kembali sekolah. Inilah cerita tentang bagaimana kebersamaan mengubah duka menjadi suka.
Bahu-membahu di Bawah Langit Senja: Babinsa dan Warga Bersatu
Setiap sore, setelah tugas resmi selesai, Sertu Rahmat, Babinsa setempat, berganti pakaian dan bergabung dengan puluhan warga di lokasi pembangunan. Mereka mengaduk semen, memasang bata, dan menyusun atap. Tidak ada sekat antara prajurit dan rakyat. Semua bekerja dengan keringat dan tawa. Ibu-ibu menyiapkan kopi dan makanan ringan, bapak-bapak menggotong kayu, dan anak-anak membantu mengambilkan paku. Inilah wujud nyata program 'Membangun Negeri dari Desa' yang digagas Rahmat — sebuah inisiatif sederhana yang menjadi jembatan antara TNI dan masyarakat. Kepala sekolah, Ibu Rita, tak kuasa menahan haru saat melihat kebersamaan itu. "Mereka bukan hanya tentara, mereka bagian dari keluarga kami," ujarnya dengan suara bergetar. Proses pembangunan yang awalnya hanya mimpi kini menjadi nyata, berkat tangan-tangan yang tak pernah lelah bergerak.
Manfaat yang Terasa Hangat di Hati: Lebih dari Sekadar Gedung Sekolah
Kini, ruang kelas baru sudah berdiri kokoh. Ventilasi yang baik membuat udara segar masuk, dan perpustakaan mini sederhana menjadi sudut favorit anak-anak. Selain fisik bangunan, gotong royong ini juga membawa manfaat yang tak ternilai bagi warga desa dan program pendidikan desa di Kalbar:
- Memperkuat silaturahmi antara warga dan TNI, menumbuhkan rasa saling percaya yang selama ini belum terjalin erat.
- Menjadi model pembangunan berbasis komunitas yang diakui oleh Bupati dalam acara peresmian, sebagai contoh nyata bagaimana kekuatan bersama bisa mengatasi keterbatasan.
- Mengangkat semangat pendidikan desa di Kalbar, membuktikan bahwa sekolah bukan hanya gedung, tapi tempat tumbuhnya mimpi anak-anak dusun.
Acara peresmian dihadiri langsung oleh Bupati yang memuji inisiatif ini. Beliau menyebutnya sebagai model pembangunan yang harus ditiru di daerah lain. Tapi bagi warga, pujian itu tak seberapa dibanding rasa syukur dan kebanggaan karena mereka sendiri yang mewujudkannya. Hari-hari berlalu, dan suara riang anak-anak mengisi kelas-kelas baru itu. Mereka tak lagi belajar di bawah tenda bocor, melainkan di ruang yang terang dan nyaman. Dan saat malam tiba, obrolan warga di pos ronda masih sering mengingat cerita tentang bagaimana mereka bersama TNI membangun sekolah dari gotong royong. Sebuah cerita yang akan terus diceritakan turun-temurun, bahwa di desa ini, kebersamaan adalah kunci untuk mewujudkan mimpi anak-anak. Dari keringat dan senyum, lahirlah harapan baru yang takkan pernah padam.