Kabut pagi masih setia menyelimuti Desa Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Barat. Di tepi sungai yang mengalir deras setelah hujan semalaman, seorang bocah kecil bernama Rina berdiri dengan hati berdebar. Seragam merah putihnya rapi, tas di punggung terasa berat, tetapi langkahnya tertahan. Kelas 2 SD itu menatap arus sungai yang meninggi—melebihi lutut orang dewasa. Rina memegang erat tali tasnya, bimbang antara takut dan tekad untuk sampai ke sekolah. Baginya, sungai itu bukan penghalang, melainkan teman yang harus ditaklukkan setiap hari demi menggapai cita-cita. Dari situlah cerita haru di NTT ini bermula, dari seorang anak sekolah yang berani melangkah meski di tengah keterbatasan.
Kebaikan Babinsa yang Menggetarkan Hati
Tanpa diduga, langkah Rina terhenti oleh kehadiran Serda Markus, seorang Babinsa yang tengah melakukan patroli rutin di wilayah desa. Dari kejauhan, ia melihat kegelisahan di wajah Rina dan dua temannya yang ikut menunggu di tepi sungai. Dengan senyum hangat, Serda Markus mendekat dan tanpa banyak bicara menawarkan diri untuk menggendong mereka. “Saya ingat anak saya sendiri di kampung,” katanya lembut. Satu per satu ia menggendong Rina menyeberangi sungai yang dingin, lalu kembali lagi untuk membantu dua anak lainnya. Derasnya arus tak menyurutkan langkahnya. Setibanya di seberang, Rina dan teman-temannya berlari kecil menuju sekolah, wajah mereka berseri-seri bak mentari pagi. Tindakan sederhana ini menjadi cerita haru yang menggema dari mulut ke mulut, membuktikan bahwa seorang babinsa bukan sekadar aparat, tetapi juga sahabat yang hadir di saat paling dibutuhkan.
Gotong Royong: Bukti Kedekatan Teritorial yang Nyata
Video singkat aksi Serda Markus menyebar cepat di grup WhatsApp warga. Bukan hanya membuat haru, tayangan itu menjadi pemicu semangat gotong royong yang selama ini terpendam. Warga Desa Wae Rebo tidak mau terus bergantung pada seorang babinsa untuk menggendong anak-anak menyeberang. Dengan bahu-membahu, mereka mulai mengumpulkan bambu dan tali untuk membangun jembatan darurat. Semangat kedekatan teritorial yang ditunjukkan oleh aparat desa ini menular ke seluruh lapisan masyarakat. Kini, berkat kerja keras bersama, perubahan nyata mulai terasa:
- Anak-anak tidak perlu lagi ragu menyeberang saat sungai sedang naik.
- Orang tua bisa melepas anak ke sekolah dengan hati lebih tenang.
- Guru-guru melihat murid-murid semakin semangat datang ke kelas.
- Kepala Sekolah SDN Wae Rebo bersyukur atas perubahan yang menggembirakan ini.
“Perhatian seorang babinsa benar-benar menumbuhkan rasa aman dan semangat belajar anak-anak,” ujar kepala sekolah dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, satu aksi tulus dari seorang aparat desa bisa menyatukan warga dalam semangat kebersamaan yang kuat.
Kini, ketika kabut pagi kembali turun di Wae Rebo, anak-anak tidak lagi berdiri ragu di tepi sungai. Jembatan darurat yang dibangun dengan gotong royong telah menjadi jembatan harapan. Di balik derasnya sungai, ada tangan-tangan hangat yang selalu siap menjaga langkah kecil mereka. Rina dan teman-temannya kini bisa tersenyum lebar setiap pagi—bukan hanya karena mereka selamat menyeberang, tetapi karena mereka tahu, di desa ini, tidak ada yang berjalan sendirian. Semangat kebersamaan dan kasih sayang akan terus mengalir seperti air sungai yang tak pernah habis.