Pagi Sabtu di Desa Labuan Wajo, Buton Utara, bukan sekadar pagi biasa. Sejak subuh, anak-anak bersarung dan bercopiah sudah berjalan kaki melewati sawah dan kebun menuju musala kecil di ujung kampung. Di sana, mereka tak sabar menunggu kehadiran seorang guru ngaji istimewa: Serda Ari, Babinsa yang setiap pekan rela menyisihkan waktu untuk membimbing mereka. Dengan seragam loreng dan sorban putih, ia duduk bersila di tengah puluhan santri cilik, membimbing mereka membaca Iqra dan menghafal surat-surat pendek. Suasana hangat dan akrab langsung menyelimuti musala sederhana itu, seolah tak ada jarak antara seorang TNI dengan warga di desa pelosok Buton.
Dari Tiga Santri Jadi Puluhan, Buah dari Ketulusan Hati
Awalnya hanya tiga anak yang datang belajar mengaji. Tapi Serda Ari tak pernah patah semangat. Dengan sabar, ia terus mengajar, dan perlahan kabar tentang kebaikannya menyebar dari mulut ke mulut. Kini, lebih dari 30 anak hadir setiap Sabtu. Bahkan, sebagian orang tua ikut mengaji di sesi sore. Mereka duduk lesehan bergantian, penuh kekeluargaan. “Saya ingin anak-anak di sini tidak hanya pinter pengetahuan umum, tapi juga agama. Ini tugas saya sebagai Babinsa juga, mendekatkan diri melalui hati,” tutur Serda Ari dengan suara lembut. Program ngaji yang lahir dari kepedulian ini menjadi bukti nyata bahwa TNI bisa hadir sebagai sahabat warga desa pelosok Buton. Seperti kata Siti, salah satu warga, “Dulu anak saya malas mengaji, sekarang setiap Sabtu dia bangun pagi sendiri mau ke musala. Terima kasih Pak Serda.”
Lebih dari Sekadar Guru Ngaji, TNI Hadir sebagai Sahabat Warga
Kehadiran Serda Ari tak hanya mengajarkan ngaji, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar dan kebersamaan. Orang tua merasa terbantu, dan kegiatan ini bahkan viral setelah video anak-anak berebut salaman dengan Serda Ari diunggah oleh istri Danramil. Banyak warganet terharu dan memuji kerja ikhlas seorang Babinsa. Berikut beberapa manfaat yang dirasakan warga:
- Anak-anak menjadi lebih rajin mengaji dan hafal surat pendek
- Orang tua ikut belajar, mempererat ikatan keluarga dan agama
- Semangat gotong royong dan kedekatan dengan TNI semakin kuat
- Musala kecil menjadi pusat kegiatan positif di desa
Cerita Serda Ari mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak harus besar. Cukup hadir dengan tulus, hati terbuka, dan mau berbagi ilmu. Di tengah keterbatasan desa pelosok Buton, seorang Babinsa dengan seragam loreng justru menjadi lentera yang menerangi pagi-pagi Sabtu. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua bahwa kedekatan teritorial bukanlah soal jarak, melainkan tentang seberapa jauh kita mau menyentuh hati sesama. Dari Labuan Wajo, hangatnya persaudaraan terus menyala, menjadi pengingat bahwa di mana pun kita berada, sebuah senyuman dan ilmu yang dibagikan bisa mengubah dunia.