Malam mulai merayap di Desa Pos Gabma, Kecamatan Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat. Cahaya lampu minyak dan pelita mulai menerangi musholla kayu sederhana yang berdiri di antara rimbunnya pepohonan. Di sanalah, setiap usai Maghrib, suara lantang anak-anak kecil menggema menghafal huruf hijaiyah. Mereka tak hanya membaca, tapi juga belajar tajwid dan adab dari seorang pria berseragam loreng—Serma Faisal, prajurit TNI yang berdinas di Pos Gabma perbatasan Indonesia-Malaysia. Siapa sangka, di tengah tugas menjaga negara, ia juga menjadi guru ngaji bagi puluhan anak desa yang haus akan ilmu agama. Udara dingin perbatasan seolah hangat oleh semangat mereka yang tak pernah absen mengaji setiap malam.
Dari Seragam Loreng ke Sorban Guru Ngaji: Panggilan Hati di Perbatasan
Serma Faisal bukanlah kiai atau ustaz yang menimba ilmu di pesantren besar. Ia hanya seorang prajurit yang merasa prihatin melihat kondisi anak-anak di perbatasan. Banyak dari mereka yang setelah Maghrib justru berkeliaran di jalan, tanpa bimbingan agama yang memadai. “Di sini, pusat kegiatan keagamaan sangat terbatas. Orang tua sibuk bekerja di ladang. Saya merasa terpanggil untuk mengisi kekosongan itu,” ujar Faisal dengan nada rendah, namun penuh semangat. Sejak setahun lalu, ia memanfaatkan musholla kecil di dekat pos untuk mengajar Iqra dan tajwid. Tak hanya itu, ia juga mengadakan bimbingan belajar dan olahraga agar anak-anak terhindar dari pengaruh buruk seperti narkoba dan radikalisme. Kegiatan ini menjadi oase bagi warga yang selama ini merindukan sosok guru ngaji yang mapan. Mak Minah, seorang ibu dari tiga anak, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Kami tidak punya guru ngaji yang mapan. Apalagi di perbatasan seperti ini. Serma Faisal benar-benar berkah. Sekarang anak-anak saya setiap malam belajar ngaji. Mereka jadi rajin salat dan akhlaknya makin baik,” tuturnya sambil tersenyum.
Kedekatan TNI dan Warga: Lebih dari Sekadar Jaga Tapal Batas
Inisiatif Serma Faisal ini bukanlah sekadar kegiatan sampingan. Komandan Pos Gabma memberikan apresiasi tinggi karena aksi ini mencerminkan betapa dekatnya TNI dengan masyarakat di wilayah perbatasan. “Ini bukti bahwa TNI tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga hadir untuk membangun akhlak dan karakter generasi muda. Prajurit seperti Serma Faisal adalah teladan bagi kami semua,” ujar Komandan Pos. Kegiatan ini pun viral di media sosial setempat, menginspirasi prajurit lain untuk melakukan hal serupa di daerah masing-masing. Hubungan antara TNI dan warga desa semakin erat, layaknya keluarga besar yang saling peduli. Warga tak ragu-ragu membawakan hasil ladang seperti singkong, pisang, atau sayuran sebagai tanda terima kasih. Sebaliknya, Serma Faisal dan rekan-rekannya kerap membantu warga saat panen atau memperbaiki jalan desa. Semua berjalan alami, penuh gotong royong. Manfaat langsung yang dirasakan warga dari program guru ngaji ini sungguh nyata:
- Pendidikan Agama Terjangkau: Anak-anak desa belajar mengaji tanpa biaya, hanya bermodal semangat dan waktu.
- Penguatan Akhlak: Anak-anak jadi rajin salat, sopan santun, dan menjauhi pergaulan negatif.
- Kedekatan TNI-Rakyat: Program ini mempererat hubungan antara prajurit dan warga, membangun rasa saling percaya.
- Inspirasi bagi Prajurit Lain: Kisah Serma Faisal mendorong prajurit di pos lain untuk turut aktif dalam pendidikan dan kegiatan sosial.
Di balik seragam loreng yang gagah, hati Serma Faisal begitu lembut saat membimbing anak-anak desa. Ia tak hanya menanamkan ilmu, tapi juga nilai-nilai kebersamaan. Warga berharap program ini terus berlanjut, meski nantinya Serma Faisal mungkin dipindahtugaskan. “Kami doakan Pak Faisal sehat selalu. Semoga prajurit lain juga seperti beliau,” ucap Mak Minah dengan mata berkaca-kaca. Di perbatasan yang sunyi, cahaya ilmu dari musholla kecil itu terus menyala, mengingatkan bahwa kedekatan dan gotong royong adalah kunci menjaga keutuhan negeri. Semoga semangat ini merambat ke seluruh pelosok Indonesia, karena tak ada yang lebih hangat selain berbagi kebaikan di tengah dinginnya malam perbatasan.