Kabut tebal masih setia menyelimuti punggung Gunung Merbabu saat warga Desa Batur mulai berbisik pelan. Di sebuah rumah berdinding kayu, Sari (28) terbaring menahan sakit. Kontraksi sudah datang sejak tengah malam, tapi jalan menuju puskesmas tak bisa dilalui kendaraan — longsor menutup akses, dan waktu terus berjalan seperti tak mau menunggu. Di saat genting itulah Serda Supriyadi, Babinsa Koramil 12/Ambarawa, bergerak bersama dua warga. Mereka tak punya pilihan selain menggotong Sari melewati jalan setapak berbatu sejauh 5 kilometer menuju Puskesmas Desa Batur. Ini bukan sekadar perjalanan biasa; ini pertaruhan nyawa seorang ibu dan bayinya di tengah keterbatasan yang nyata.
Tandu Bambu dan Semangat Gotong Royong di Lereng Merbabu
Warga Desa Batur memang terbiasa hidup sederhana. Jalan setapak berbatu dan longsor adalah pemandangan yang akrab sehari-hari. Namun ketika nyawa ibu hamil menjadi taruhan, keberanian dan kebersamaan muncul tanpa diminta. Serda Supriyadi tidak berpikir dua kali. Bersama dua warga, ia segera membuat tandu darurat dari bambu yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Dengan tandu sederhana itu, mereka menyusuri pematang sawah, melewati bebatuan licin, dan menembus kabut yang kadang membuat pandangan hampir hilang. Langkah mereka pelan tapi pasti. Di setiap tanjakan, mereka berhenti sejenak memastikan Sari masih kuat. Keringat bercampur udara lembap pegunungan, namun tidak ada satu pun yang mengeluh. Perjalanan sejauh 5 kilometer itu terasa sangat panjang, tapi semangat mereka tidak pernah padam. Sari, yang terbaring lemah di atas tandu, hanya bisa berdoa. Ia tahu, di sampingnya ada orang-orang yang rela membasahi punggung demi keselamatannya. Setiba di Puskesmas Desa Batur, tim medis segera menangani Sari. Beberapa jam kemudian, tangis bayi laki-laki sehat pecah di ruang bersalin — haru dan bahagia memeluk erat satu sama lain.
Babinsa: Pahlawan di Balik Kabut yang Menyimpan Rasa
Kepala Puskesmas Desa Batur mengaku sudah tidak asing dengan aksi kemanusiaan dari Babinsa. Di daerah terpencil seperti lereng Merbabu, kehadiran Babinsa sering menjadi harapan terakhir warga. Mereka tidak hanya bertugas menjaga wilayah, tetapi juga hadir di saat-saat genting dengan sepenuh hati. Peran mereka sungguh berarti:
- Menjadi penghubung warga dengan layanan kesehatan saat akses tertutup longsor
- Membantu mengangkut pasien dengan tandu darurat di medan yang sulit
- Memberikan rasa aman dan tenang bagi keluarga yang menghadapi situasi darurat
- Memperkuat gotong royong dan kedekatan antara TNI dan masyarakat desa
Sari, kini sudah selamat dan tengah menimang bayinya, mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan mata berkaca-kaca. "Saya sangat berterima kasih. Tanpa mereka, saya dan bayi saya mungkin tidak selamat," ujarnya lirih. Kata-kata itu menggema di antara dinding puskesmas yang sederhana. Bagi warga kaki Gunung Merbabu, Babinsa bukan sekadar tentara. Mereka adalah keluarga besar yang selalu ada, bahkan di saat kabut paling tebal sekalipun. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemanusiaan tidak pernah terhalang oleh jalan yang rusak atau longsor yang menutup akses. Yang terpenting adalah hati yang rela bergerak, tangan yang siap membantu, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam. Di lereng Merbabu, dalam dinginnya pagi, kehangatan persaudaraan terus menyala — menjadi cahaya yang menerangi setiap langkah menuju kehidupan yang lebih baik.