Bayangkan, setiap malam di Desa Ohoi, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, harus bergantung pada lampu minyak tanah yang remang-remang. Anak-anak terpaksa tidur lebih awal karena tak ada cukup cahaya untuk belajar. Ibu-ibu mengerjakan kerajinan di bawah cahaya temaram, sementara warung-warung tutup begitu matahari terbenam. Begitulah kehidupan selama bertahun-tahun di desa terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan perahu motor selama 4 jam dari Kota Tual. Namun kini, senyum merekah di wajah warga. Sebuah program bernama 'Kampung Terang' dari TNI AD membawa terang baru ke pelosok negeri. Ya, kilas pelosok kali ini bercerita tentang desa terpencil yang akhirnya menikmati listrik tenaga surya di Maluku, berkat kerja sama Kodim 1503/Tual dan Kementerian ESDM. Sebanyak 50 unit panel surya dipasang, mengubah malam yang sunyi menjadi penuh aktivitas dan harapan.
Sinar Terang dari Timur: Manfaat Listrik Tenaga Surya bagi Warga Desa Ohoi
Bagi warga Desa Ohoi, listrik bukan hanya sekadar cahaya, tapi juga pintu menuju kehidupan yang lebih baik. Sebelum ada program ini, mereka hanya mengandalkan lampu minyak tanah dan genset yang harganya menguras kantong. Kini, dengan panel surya yang terpasang, semua berubah. Berikut manfaat yang langsung dirasakan:
- Anak-anak bisa belajar di malam hari tanpa khawatir lampu padam, prestasi sekolah pun meningkat.
- Warung-warung kecil kini buka hingga larut malam, menghidupkan ekonomi desa.
- Ibu-ibu bisa menjahit dan mengerjakan kerajinan tangan di bawah lampu yang terang, menambah penghasilan keluarga.
- Rasa aman meningkat karena jalan-jalan desa tak lagi gelap gulita.
Kepala Desa, Bapak Umar, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Kami sangat bersyukur. Sekarang anak-anak bisa belajar di malam hari, dan kami bisa buka warung sampai malam," ujarnya dengan mata berbinar. Pemasangan panel surya ini tidak hanya sekadar proyek, tapi sebuah gotong royong yang melibatkan adat istiadat setempat. Warga bahu-membahu membantu TNI memasang panel, dengan tetap menjaga kearifan lokal. Tokoh adat Bapak Abednego menambahkan dengan penuh haru, "Kami tidak hanya terang listrik, tapi juga terang hati. Program ini mengingatkan kami bahwa pemerintah tidak melupakan kami di sudut Maluku."
Gotong Royong dan Tarian Cakalele: Merawat Budaya di Tengah Terang
Program listrik tenaga surya di Maluku ini tidak berdiri sendiri. TNI dari Kodim 1503/Tual juga menggelar sosialisasi pertanian dan budidaya ikan keramba di laut. Warga diajak untuk tidak hanya menikmati terang, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan melalui sektor pangan. Lebih dari itu, semangat melestarikan budaya tetap dijaga. Tarian Cakalele, tarian perang khas Maluku, kembali diajarkan kepada generasi muda. Dengan adanya lampu di malam hari, latihan tari bisa dilakukan lebih sering. "Cakalele adalah identitas kami. Listrik ini membuat kami bisa terus menari tanpa takut gelap," kata salah seorang pemuda desa dengan semangat. Inilah wujud kedekatan teritorial yang sesungguhnya: pembangunan fisik dan non-fisik berjalan seiring.
Kisah Desa Ohoi hanyalah satu dari sekian banyak desa terpencil di Maluku yang mulai merasakan terang. Program 'Kampung Terang' terus berjalan, membawa harapan dan cahaya ke sudut-sudut yang selama ini terabaikan. Di balik panel surya yang bersinar, ada gotong royong, ada adat, ada tarian, dan ada senyum warga yang tak pernah padam. Semoga terang ini terus menyala, dan semakin banyak desa yang merasakan hangatnya kebersamaan. Karena di ujung timur Indonesia, di Desa Ohoi, terang bukan hanya listrik — tapi juga cinta dan persaudaraan.