Pagi itu di Kampung Logpon, Kabupaten Yahukimo, udara pegunungan yang sejuk menyapa siapa saja yang datang. Namun yang lebih hangat dari udara adalah sambutan warga saat melihat seragam hijau loreng memasuki pemukiman mereka. Bukan untuk patroli atau penjagaan, melainkan untuk duduk bersama, ngobrol santai, dan berbagi senyum. Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 5 Marinir kembali menunjukkan bahwa kedekatan dengan masyarakat adalah prioritas utama. Pada Sabtu (20/6/2026), mereka turun langsung ke tengah warga dengan pendekatan humanis yang akrab disebut komunikasi sosial alias Komsos.
Duduk Satu Lantai, Berbagi Cerita
Tidak ada jarak antara prajurit dan warga saat itu. Mereka duduk di teras rumah, di bawah pohon rindang, atau di pinggir jalan kampung — sama rata, sama rasa. Percakapan ringan mengalir, dari soal hasil kebun, kesehatan keluarga, hingga harapan anak-anak yang ingin sekolah lebih baik. Komunikasi sosial ini menjadi jembatan kehangatan yang langsung menyentuh kehidupan nyata masyarakat Yahukimo. Para Marinir tidak hanya mendengar, tetapi juga menyerap aspirasi warga, mencatat kebutuhan, dan merencanakan langkah selanjutnya.
- Mendengar curhat para ibu tentang sulitnya air bersih di musim kemarau
- Berbagi cerita dengan para bapak soal semangat gotong royong membangun jalan kampung
- Menghibur anak-anak dengan cerita dan canda, sehingga mereka tak segan mendekat
Biskuit Sederhana, Makna yang Mendalam
Di sela obrolan, prajurit membagikan sekotak biskuit kepada setiap keluarga. Meski tampak sederhana, bagi warga Kampung Logpon, itu adalah simbol perhatian yang sangat berarti. Biskuit itu bukan sekadar makanan ringan, melainkan bukti bahwa kehadiran TNI di Papua bukan hanya tentang menjaga perbatasan, tetapi juga tentang berbagi dan peduli. Ibu-ibu tersenyum, anak-anak berlarian gembira, dan suasana kampung terasa semakin akrab. Program sosial seperti ini adalah rutinitas Satgas, yang terus menguatkan pesan: prajurit adalah sahabat, bukan penakut.
Kehadiran Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 5 Marinir di Kampung Logpon punya dua wajah yang saling melengkapi. Satu sisi sebagai pelindung kedaulatan negara di perbatasan, sisi lain sebagai mitra dan keluarga bagi masyarakat Papua Pegunungan. Dengan turun langsung ke kampung, mereka menunjukkan bahwa TNI hadir untuk mendekatkan diri, memahami denyut nadi warga, dan bersama-sama membangun harapan. Kampung Logpon yang terpencil di ketinggian pun terasa terhubung — bukan hanya oleh jalan, tetapi oleh rasa kebersamaan.
Hari itu, sebelum matahari tenggelam di balik bukit, warga dan prajurit berpisah dengan jabat tangan hangat dan senyum lebar. Anak-anak masih melambai, para ibu berbisik, "Terima kasih, Bapak Marinir. Jangan lupa mampir lagi ya." Dan di situlah letak kekuatan sejati program teritorial — bukan pada besar kecilnya bantuan, tetapi pada ikatan hati yang terjalin. Masyarakat Yahukimo merasa tidak sendiri; mereka punya saudara baru yang selalu hadir di saat suka maupun duka. Semoga kehangatan seperti ini terus menyala, menjadi api yang menerangi setiap sudut Papua Pegunungan.