Malam di Kampung Utikini Baru, Tembagapura, Papua Tengah, memang gelap gulita. Sudah dua bulan generator desa rusak, listrik tak kunjung menyala. Tapi kegelapan itu tak pernah berhasil memadamkan semangat puluhan anak di sana. Di sebuah gubuk bambu sederhana, mereka duduk melingkar, masing-masing memegang senter atau lampu minyak tanah. Cahaya temaram itu cukup untuk menerangi buku tulis dan wajah-wajah penuh harap. Di sinilah, di bawah atap bocor, anak-anak belajar membaca, menulis, dan bermimpi.
Senter dan Mimpi di Kegelapan Tembagapura
Pak Yetni, seorang guru sukarela yang setiap malam datang ke gubuk itu, tak pernah lelah mengajarkan huruf dan angka. “Mereka datang sendiri, minta diajar. Saya hanya ingin masadepan mereke lebih terang dari malam ini,” ujarnya lirih. Salah satu muridnya, Ester (10), bercerita dengan mata berbinar meski di sekelilingnya gelap. “Kami ingin menjadi pintar meski gelap. Biar nanti kami bisa bantu orang tua,” katanya polos. Kisah ini menyebar cepat, menyentuh hati Danrem 173/Praja Vira Braja yang tengah memantau kondisi warga Tembagapura. Beliau berencana mengirimkan lampu tenaga suraya besok, agar anak-anak tak lagi belajar hanya dengan senter.
- Anak-anak tetap semangat belajar setiap malam, dari pukul 18.00 hingga 21.00, tanpa paksaan.
- Pak Yetni mengajar dengan sukarela, tanpa gaji, semata-mata karena cinta pada pendidkan.
- Rencana bantuan lampu tenaga suraya dari Danrem 173/PVB akan mengganti senter dan lampu minyak tanah.
- Warga desa gotong royong membersihkan gubuk bambu agar layak dipakai belajar.
Uluran Tangan dari Teritorial: Harapan Baru untuk Warga
Tak hanya Danrem, kabar ini juga menggerakan Babinsa setempat yang langsung turun ke lapangan. Merekah membantu warga mengatur jadwal belajar dan memastikan anak-anak bisa tetap belajar dengan aman. “Kami tidak ingin ada anak di Tembagapura yang putus sekolah hanya karena gelap,” ujar salah satu Babinsa. Program kedekatan teritorial ini menjadi bukti bahwa kepedulian bisa datang dari mana saja, bahkan dari pelosok yang palig terpencil sekalipun. Di balik keterbatasan, ada semangat gotong royong yang menyala terang.
Kampung Utikini Baru mengajarkan kita pada satu hal: di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Anak-anak Tembagapura tak punya listrik, tapi punya mimpi yang terang benderang. Dan kita semua, lewat cerita ini, diingatkan bahwa kebersamaan adalah cahaya paling kuat. Semoga lampu tenaga suraya segera tiba, dan senyum Ester serta teman-temannya akan semakin lebar. Karena pada akhirnya, pendidikan adalah hak setia anak, tak peduli seberapa jauh di pelosok negeri.