Pagi itu, mentari perlahan naik di ufuk timur, menyapa Kampung Engganengga, sebuah desa kecil di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Namun, hangatnya bukan hanya datang dari sinar matahari. Lebih dari itu, suasana desa yang biasanya hening berubah menjadi ramai dan penuh senyum saat prajurit Satgas Mobile Yonif 113/Jaya Sakti tiba. Mereka datang bukan dengan langkah gagah dan senjata terhunus, melainkan dengan senyum ramah dan semangat gotong royong. Dua hal yang paling dinantikan warga pun diusung: ibadah bersama dan pelayanan kesehatan. Di balik seragam loreng yang mereka kenakan, tersimpan hati yang tulus untuk merangkul masyarakat Papua—bukan sekadar sebagai penjaga keamanan, tetapi sebagai saudara yang selalu siap mendengar dan meringankan beban.
Merajut Kepercayaan Lewat Ibadah Bersama
Kegiatan di pagi yang berembun itu diawali dengan ibadah yang khusyuk. Di tengah keterbatasan fasilitas, lapangan sederhana yang biasanya menjadi tempat anak-anak bermain disulap menjadi ruang sakral. Warga dan prajurit duduk berdampingan, membaur tanpa sekat. Mereka berdoa dengan keyakinan yang sama—bahwa kedamaian dan kesehatan adalah anugerah yang harus dijaga bersama. Suasana penuh keakraban ini mengajarkan kita bahwa hubungan antara TNI dan rakyat Papua tidak dibangun di atas fondasi ketakutan, melainkan di atas spiritualitas dan rasa kekeluargaan yang mendalam. Ibadah menjadi jembatan emas untuk saling mengenal, mempercayai, dan merasakan bahwa kehadiran negara di pelosok bukan hanya untuk mengawasi, tetapi juga untuk merangkul dan melindungi. Bapak Yohanes, salah seorang tetua kampung, dengan mata berkaca-kaca, berbisik lirih, “Mereka datang seperti keluarga sendiri, bukan orang asing. Kami merasa diperhatikan.”
Pelayanan Kesehatan: Harapan Baru di Tengah Keterbatasan
Usai ibadah, giliran pelayanan kesehatan yang menjadi primadona. Warga berduyun-duyun mendatangi posko sederhana yang dengan sigap disulap menjadi klinik darurat. Di sana, para prajurit yang memiliki latar belakang medis dengan sabar memeriksa satu per satu warga—mulai dari anak-anak yang demam hingga orang tua yang mengeluh tekanan darah tinggi. Tak hanya pemeriksaan, mereka juga memberikan obat-obatan secara gratis. Jebu Bagau, salah satu warga yang tengah antre, mengaku sangat bersyukur. “Sebelumnya, untuk berobat kami harus jalan kaki berjam-jam menuju Pogapa. Medannya berat, apalagi jika ada anak atau orang tua yang sakit. Sekarang, TNI datang langsung ke kampung. Ini benar-benar membantu,” ujarnya dengan suara bergetar penuh haru. Bagi warga Engganengga, kehadiran tenaga kesehatan dari Satgas Yonif 113/JS adalah angin segar yang sudah lama dinantikan. Bukan hanya obat yang diberikan, tapi juga senyum tulus dan perhatian yang membuat hati terasa lebih ringan. Beberapa manfaat yang langsung dirasakan warga antara lain:
- Akses kesehatan lebih dekat: Warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh dan melelahkan ke puskesmas. Cukup datang ke posko TNI di kampung sendiri, segala keluhan kesehatan bisa langsung ditangani.
- Biaya pengobatan gratis: Semua pelayanan dan obat-obatan diberikan tanpa dipungut biaya sepeser pun, sehingga sangat meringankan beban ekonomi warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
- Perhatian yang tulus: Para prajurit tidak hanya bekerja secara medis, tetapi juga mendengarkan keluh kesah warga, memberi semangat, dan membuat mereka merasa benar-benar diperhatikan.
Di penghujung kegiatan, senyum dan ucapan terima kasih masih terlihat jelas di wajah warga Kampung Engganengga. Mereka sadar bahwa kehadiran TNI di tengah mereka bukanlah sekadar rutinitas tugas, melainkan wujud nyata cinta kasih dan pengabdian kepada negeri. Suasana hangat itu bagaikan api kecil yang terus menyala—menghangatkan hati yang dingin oleh keterpencilan, dan mengingatkan bahwa di mana pun kita berada, selama ada rasa kebersamaan, tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk diatasi. Semoga semangat gotong royong dan kedekatan ini terus terjaga, menjadikan Papua sebagai rumah yang damai dan penuh harapan bagi semua.