Di tengah deburan ombak yang berirama dan hembusan angin laut yang membawa aroma garam, hiduplah sebuah kisah perjuangan yang menghangatkan hati. Di Kepulauan Sangihe yang indah, seorang Babinsa bernama Serda Alfredo Tampi memilih untuk tidak tinggal diam. Setiap Senin dan Kamis, dengan semangat yang tak pernah padam, ia menyeberangi lautan dengan perahu kayu sederhana selama 30 menit menuju Pulau Pasoso, sebuah desa terpencil di Kecamatan Manganitu. Di sanalah, di SDN Pasoso yang hanya memiliki dua guru, ia hadir sebagai malaikat penolong bagi anak-anak yang haus akan ilmu.
Kisah ini bermula dari keprihatinan yang mendalam. Pulau Pasoso adalah salah satu wilayah pedalaman yang aksesnya sangat terbatas. Listrik saja masih menjadi barang mewah, apalagi akses pendidikan yang layak. Namun, kehadiran Serda Alfredo mengubah segalanya. Ia tidak hanya menjadi seorang guru, tetapi juga menjadi teman, kakak, dan harapan baru bagi mereka. Dengan penuh kehangatan, ia mengajar matematika, bahasa Indonesia, dan melatih baris-berbaris—lebih dari sekadar pelajaran, ia menanamkan semangat pantang menyerah dalam diri setiap anak. Setiap kedatangannya, senyum ceria anak-anak langsung menyambut: “Pak Babinsa datang! Pak Babinsa datang!” Suasana hangat itu membuat semua orang merasa bahwa kebaikan masih bersemi di tengah keterbatasan.
Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Menyalakan Harapan
Serda Alfredo membuktikan bahwa mengajar adalah panggilan jiwa, bukan sekadar tugas militer. Ia tidak tega melihat anak-anak kehilangan masa depan. Selain mengajar, ia juga menyediakan buku pelajaran dan alat tulis dari hasil donasi rekan-rekannya di kota. Berikut yang ia lakukan untuk menyalakan harapan di Pulau Pasoso:
- Menjadi guru sukarelawan untuk mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan pelatihan baris-berbaris.
- Menyediakan buku-buku pelajaran dan alat tulis dari hasil donasi rekan-rekan di kota.
- Memberikan motivasi dan semangat belajar baru bagi anak-anak di daerah pedalaman.
“Saya tidak tega melihat mereka kehilangan masa depan. Selama saya masih bisa, akan saya bantu,” ucap Serda Alfredo dengan mata berkaca-kaca. Kepala SDN Pasoso tak mampu menyembunyikan rasa harunya, “Kehadiran Pak Babinsa membuat semangat anak-anak kembali membara. Kami sangat bersyukur.” Kini, setiap anak di Pulau Pasoso bermimpi menjadi guru, polisi, atau bahkan pilot—mimpi yang dulu terasa mustahil kini mulai membuncah.
Kedekatan Tulus yang Menyentuh Hati
Kisah Serda Alfredo adalah bukti bahwa program kedekatan teritorial tidak hanya soal jaga keamanan, tetapi juga tentang hadir di tengah-tengah warga pedalaman. Di Kepulauan Sangihe, ia menjadi jembatan antara kebutuhan dasar dan kasih sayang. Dengan perahu kayu dan hati yang penuh empati, ia mengingatkan kita bahwa kebersamaan adalah obat paling manis untuk keterasingan. Setiap pulau, sekecil apa pun, layak mendapatkan perhatian dan cinta. Babinsa seperti Alfredo membuat desa-desa terpencil tidak merasa sendirian—mereka adalah bagian dari keluarga besar Indonesia.