Cerita Kehangatan Trending

Cerita Kehangatan: Prajurit TNI Jadi Guru Ngaji Anak-anak Desa di Pedalaman Lampung

Cerita Kehangatan: Prajurit TNI Jadi Guru Ngaji Anak-anak Desa di Pedalaman Lampung

Di Desa Tanjung Raya, Lampung Barat, prajurit TNI AD Koptu Hendra menyisihkan waktu setelah patroli untuk menjadi guru ngaji bagi anak-anak pedalaman. Kehadirannya tak hanya membuat anak-anak lancar membaca Al-Qur’an, tapi juga mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat. Kisah ini menjadi bukti bahwa kebaikan tak kenal jarak, dan setiap prajurit bisa menjadi pahlawan di hati rakyat.

Mendung perlahan turun di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat. Namun, suara riang anak-anak mengaji tetap menggema dari mushola kecil berwarna hijau di tengah desa. Di sana, seorang prajurit TNI AD, Koptu Hendra, tengah duduk melingkar bersama puluhan bocah, sabar membimbing mereka membaca Iqra’ jilid 3. Sejak tiga bulan lalu, setiap kali tugas patroli usai, ia menyisihkan waktu menjadi guru ngaji bagi anak-anak desa binaannya. “Dulu anak-anak sini jarang yang bisa baca Al-Qur’an. Sekarang mereka semangat,” ujar Koptu Hendra sambil sesekali membetulkan posisi duduk seorang bocah. Di pedalaman Lampung yang akses pendidikannya terbatas, kehadiran prajurit ini bagaikan oase di tengah gurun.

Mengajar di Pelosok, Menyentuh Hati Warga

Orang tua warga pun merasa bersyukur. Mereka mengaku bahwa anak-anak kini lebih rajin ke mushola, bahkan tak sabar menunggu sang prajurit datang. “Dulu susah banget ngajakin mereka belajar. Sekarang malah nanya terus, ‘Pak Hendra kapan ngajar?’” cerita Mak Sumi, seorang ibu rumah tangga, sambil tertawa kecil. Program yang lahir dari inisiatif pribadi ini tak hanya mengisi kebutuhan spiritual, tapi juga mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat. Berikut manfaat yang dirasakan warga:

  • Anak-anak di desa jadi lebih lancar membaca Al-Qur’an, bahkan beberapa sudah mulai hafal surat-surat pendek.
  • Orang tua merasa tenang karena anak-anak punya kegiatan positif sepulang sekolah, mengurangi waktu bermain yang kurang bermanfaat.
  • Hubungan antara TNI dan masyarakat semakin erat, seperti saudara sendiri — saling sapa dan tolong-menolong.
  • Mushola jadi ramai kembali, menjadi pusat ngaji dan ngobrol warga, menghidupkan suasana desa.

Bukan Sekadar Patroli, tapi Hadir di Hati Rakyat

Seperti diakui Kepala Desa Tanjung Raya, “Mereka seperti bagian dari keluarga kami.” Cerita ini bukan sekadar soal TNI yang patroli, tapi tentang kedekatan yang lahir dari kebersamaan. Koptu Hendra hanya tersenyum saat ditanya soal dedikasinya. “Ini bukan tugas, tapi panggilan hati. Saya senang lihat mereka semangat,” ujarnya lirih. Para orang tua bergantian membawakan camilan sederhana untuk sang guru ngaji sebagai tanda terima kasih. Anak-anak pun sering berebut duduk di sampingnya, ingin mendapat perhatian langsung.

Di desa yang sunyi ini, suara anak-anak mengaji menjadi pengingat bahwa kebaikan tak kenal jarak. Koptu Hendra, dengan seragam lorengnya, telah membuktikan bahwa seorang prajurit bisa menjadi pahlawan di hati mereka yang membutuhkan – bukan dengan senjata, melainkan dengan kasih sayang dan kesabaran. Warga berharap program sederhana ini bisa terus berjalan, menjadi contoh bagi desa-desa lain di pedalaman Lampung. Karena di balik setiap ayat yang dilafalkan, ada kehangatan yang menyatukan TNI dan rakyat, selamanya.

TNI mengajar mengaji kebersamaan TNI dan masyarakat pendidikan spiritual
Terkait
  • Topik: TNI mengajar mengaji, kebersamaan TNI dan masyarakat, pendidikan spiritual
  • Tokoh: Koptu Hendra
  • Organisasi: TNI, TNI AD
  • Tempat: Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat

Artikel terkait