Sore hari di sebuah desa terpencil di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, selalu punya pemandangan yang sama. Anak-anak kecil berlarian riang menyusuri jalan setapak menuju musholla sederhana di ujung kampung. Bukan untuk bermain, melainkan untuk belajar mengaji. Di antara mereka, duduk seorang prajurit TNI bernama Serda Ariansyah dengan sabar membimbing huruf demi huruf. Kehadirannya di tengah hamparan ladang dan laut biru membawa secercah harapan baru bagi warga yang selama ini minim akses pendidikan agama.
Dari Tugas Jaga Perbatasan, Hatinya Tergerak Jadi Guru Ngaji
Awalnya, Serda Ariansyah datang ke desa ini untuk menjalankan tugas utama: menjaga keamanan dan kedekatan teritorial di perbatasan. Namun, hatinya tak bisa diam saat melihat anak-anak desa yang nyaris tak pernah mengaji. Dengan sabar, ia mulai mengajarkan huruf hijaiyah di musholla yang hanya beralaskan tikar anyaman. Tanpa papan tulis megah, ia hanya menggunakan buku kecil dan suara lembutnya. Perlahan, murid-muridnya bertambah. Kini, lebih dari 40 anak datang setiap sore, duduk rapi, siap belajar membaca Al-Qur'an dan menghafal surat-surat pendek.
Serda Ariansyah tak hanya mengajar ngaji, tapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, tolong-menolong, dan cinta tanah air. Anak-anak di desa terpencil ini pun menganggapnya seperti kakak atau bahkan ayah kedua. Mereka tak segan memeluknya saat pulang mengaji. Ibu-ibu desa juga sering tersenyum saat menjemput anak-anaknya. Seperti kata seorang nenek, "Beliau seperti anak sendiri." Kehangatan itu makin terasa karena Serda Ariansyah juga ikut membantu warga saat panen atau memperbaiki rumah yang bocor. Ia benar-benar menjadi bagian dari desa.
Kegiatan belajar mengaji yang dipimpin prajurit ini berjalan sederhana namun penuh makna. Setiap sore, anak-anak belajar dengan metode yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Beberapa hal yang diajarkan antara lain:
- Belajar Huruf Hijaiyah: Dari alif, ba, ta hingga mengeja ayat-ayat pendek dengan metode yang menyenangkan dan penuh kasih sayang.
- Hafalan Surat Pendek: Anak-anak diajak menghafal surat Al-Fatihah, An-Nas, dan Al-Ikhlas sambil bermain agar tidak bosan.
- Nilai-Nilai Kebaikan: Setiap pertemuan selalu diselingi cerita tentang akhlak mulia, saling menghormati, dan pentingnya persaudaraan.
- Kedekatan dengan Warga: Serda Ariansyah tak segan ikut turun ke sawah saat panen atau membantu warga memperbaiki rumah, mempererat rasa persaudaraan.
Kedekatan Teritorial yang Lebih dari Sekedar Fisik
Program kedekatan teritorial TNI memang sering diwujudkan dalam bentuk pembangunan jalan, jembatan, atau fasilitas umum. Namun, Serda Ariansyah membuktikan bahwa kedekatan juga bisa dirajut melalui pendidikan dan kehangatan batin. Di sela tugas menjaga kedaulatan, ia menyempatkan diri menjadi guru ngaji bagi anak-anak desa terpencil di NTT ini. Ia tak pernah lelah mengulang-ulang bacaan untuk anak-anak yang masih kesulitan. Sabarnya membuat orang tua merasa tenang, karena selain ilmu agama, anak-anak mereka juga diajarkan nilai kebersamaan dan rasa cinta kampung halaman.
Warga desa bersyukur memiliki seorang prajurit seperti Serda Ariansyah. Ia tidak hanya menjaga tapal batas, tetapi juga ikut mencerdaskan kehidupan beragama. Anak-anak yang dulu belum mengenal huruf hijaiyah, kini perlahan bisa melantunkan ayat-ayat pendek dengan fasih. Para orang tua pun merasa lebih tenang, karena anak-anak mereka tumbuh dengan pegangan iman dan akhlak yang baik.
Senja mulai turun di ufuk timur, namun sorot mata anak-anak masih bersinar. Mereka tak sabar menunggu esok hari untuk kembali belajar bersama prajurit yang mereka sayangi. Di desa terpencil NTT ini, kehadiran Serda Ariansyah bukan sekadar tugas negara, melainkan pelukan hangat persaudaraan. Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tak pernah memandang seragam, dan kebersamaan selalu punya cara untuk menyentuh hati. Karena di balik setiap tugas, selalu ada cinta untuk negeri dan sesama.