Mentari sore merambat pelan di sela-sela dedaunan pohon rindang di Dusun Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di bawah naungannya, puluhan anak desa duduk lesehan di atas tikar anyaman, memegang buku tulis baru dengan mata berbinar. Di tengah mereka, beberapa prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 745/Satya Yudha dengan sabar membimbing tangan-tangan kecil yang baru pertama kali mengenal huruf. Tak ada gedung sekolah yang megah, tak ada papan tulis lengkap—tapi semangat belajar anak-anak itu berkobar, seakan tak mau kalah dengan hangatnya sinar matahari senja. Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas biasa; ini adalah cerita hangat tentang prajurit yang menjadi guru, dan anak desa yang haus ilmu.
Prajurit dan Anak Desa: Belajar di Bawah Naungan Pohon
Kopda Ani Lestari, salah satu prajurit yang mengajar, menceritakan awal mula kegiatan ini. Semua bermula ketika mereka bertugas membantu pembangunan gereja desa setempat. "Setiap hari kami melihat anak-anak bermain di sekitar lokasi pembangunan. Banyak dari mereka yang belum bisa membaca sama sekali. Hati saya langsung tergerak," ujarnya dengan suara lembut. Sejak itu, setiap sore sepulang tugas, Kopda Ani dan rekan-rekannya menyempatkan diri untuk mengajar membaca, menulis, dan berhitung di bawah pohon yang sama. Perlahan, jumlah murid bertambah. Kini sudah tiga bulan berjalan, dan hampir 20 anak berhasil lancar membaca.
- Pelajaran dasar – membaca, menulis, dan berhitung diajarkan dengan cara menyenangkan, menggunakan alat seadanya seperti batu kerikil untuk berhitung.
- Dukungan warga – Ibu-ibu desa setiap sore membawakan minuman hangat dan pisang goreng sebagai wujud terima kasih atas kerelaan para prajurit.
- Semangat gotong royong – Program ini menjadi bukti keakraban dan kebersamaan antara TNI dan warga desa dalam mencerdaskan generasi penerus.
Cerita Hangat dari Ende: Dari Gereja ke Pohon Ilmu
Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas belajar biasa. Ini adalah cerita hangat yang menggetarkan hati. Seorang prajurit yang datang untuk membangun tempat ibadah, justru menemukan panggilan lain: menjadi guru bagi anak desa yang haus ilmu. Di bawah pohon yang sama, setiap hari terdengar suara anak-anak mengeja suku kata, kadang tertawa saat salah, kadang bertepuk tangan saat berhasil. "Awalnya saya malu-malu, tapi sekarang setiap sore saya tunggu Pak TNI datang. Saya ingin bisa baca seperti kakak saya," celetuk Mindu, seorang murid kelas satu yang sudah lancar menulis namanya sendiri. Ibu-ibu desa yang ikut menyaksikan tak henti-hentinya bersyukur. "Kami tidak punya guru di sini. Terima kasih kepada bapak dan ibu TNI yang sudah mendidik anak-anak kami," ujar Mama Nona, salah satu warga.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tak selalu membutuhkan ruang mewah. Semangat belajar dan keikhlasan mengajar adalah kuncinya. Di desa terpencil ini, TNI dan warga bersatu padu, bergotong royong mencerdaskan anak-anak. Setiap sore, di bawah pohon yang rindang, terdengar tawa ceria dan perjuangan melawan ketidaktahuan. Inilah potret kehangatan yang menghidupkan harapan baru. Semoga cerita ini menginspirasi kita semua bahwa sesederhana apa pun, kepedulian bisa mengubah masa depan. Dan di bawah pohon ilmu itu, prajurit dan anak desa terus menuliskan cerita hangat yang tak akan pernah pudar.