Di sebuah desa kecil di Lombok Timur, saat matahari mulai condong ke barat, suara merdu lantunan ayat suci Alquran bergema dari mushola sederhana. Bukan dari seorang guru ngaji profesional, melainkan dari Serda Ahmad, anggota Babinsa setempat. Dengan penuh kesabaran, ia memandu belasan anak-anak desa membaca huruf demi huruf. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan rutin setiap sore, menggantikan kebiasaan anak-anak yang dulu lebih sering bermain di pinggir sawah. Kini, mushola itu penuh dengan semangat dan tawa kecil yang bercampur dengan bacaan ayat suci.
Kedekatan Prajurit dengan Warga Desa
Serda Ahmad bukan sekadar prajurit TNI yang menjaga keamanan. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang dekat dengan hati warga. Inisiatif mengajar mengaji ini lahir dari keprihatinannya melihat anak-anak desa yang belum lancar membaca Alquran. Dengan ramah, ia mengajak mereka datang ke mushola tanpa dipungut biaya sepeser pun. "Serda Ahmad itu ramah, kalau ngaji pelan-pelan, jadi aku jadi semangat," ucap Fauzan, 9 tahun, dengan mata berbinar. Orang tua pun merasa terbantu. Ibu Siti, salah satu wali santri, mengungkapkan rasa syukurnya, "Awalnya kami ragu, tapi ternyata beliau benar-benar tulus mendidik. Ini kebaikan yang luar biasa." Program ini murni inisiatif pribadi Serda Ahmad sebagai bentuk kedekatan dengan masyarakat.
Manfaat yang Terasa Hangat di Hati
Kehadiran program ngaji bareng ini membawa banyak manfaat yang langsung dirasakan warga. Berikut beberapa di antaranya:
- Anak-anak lebih antusias belajar mengaji karena metode yang sabar dan menyenangkan.
- Orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk les ngaji di luar.
- Suasana mushola menjadi hidup kembali sebagai pusat kegiatan positif anak-anak desa.
- Hubungan antara TNI dan warga semakin erat, mencerminkan gotong royong dan rasa saling peduli.
Bagi warga desa, kehadiran Serda Ahmad seperti oase di tengah keterbatasan. Anak-anak yang tadinya hanya bermain atau membantu orang tua di sawah kini memiliki waktu khusus untuk mendalami agama. Orang tua pun merasa tenang karena anak-anak mereka berada di bawah bimbingan langsung seorang prajurit yang amanah. Program ini membuktikan bahwa kebaikan bisa dimulai dari langkah kecil, dari hati yang tulus untuk berbagi.
Setiap sore, senyum dan semangat anak-anak menjadi pemandangan paling hangat di desa itu. Serda Ahmad tak pernah lelah mengulang bacaan, memberi contoh, dan mendorong mereka untuk terus belajar. Di balik seragam lorengnya, tersimpan hati seorang guru yang rela meluangkan waktu demi masa depan generasi desa. Warga berharap program sederhana ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain. Karena pada akhirnya, kebersamaan adalah kekuatan, dan setiap lantunan ayat suci adalah doa yang merajut persaudaraan.