Di tengah rimbunnya pepohonan dan keramahan warga Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, suasana sore itu terasa berbeda. Sertu Siswanto, seorang Babinsa dari Koramil setempat, datang bukan dengan seragam tempur yang kaku, melainkan dengan senyum dan sapaan akrab. Ia duduk bersila di antara ibu-ibu yang tengah menyiapkan jajanan pasar, bercengkerama layaknya kakak yang pulang kampung. Sabtu lalu (10/10), ia menggelar Komsos (komunikasi sosial) santai di pemukiman warga. Pertemuan itu lebih mirip arisan keluarga besar, di mana obrolan mengalir lembut—dari soal harga cabai hingga pentingnya menjaga kerukunan.
Sapa Hangat di Bawah Rindangnya Pepohonan
Siswanto dengan lembut mengingatkan, pondasi desa yang aman dan nyaman dimulai dari hubungan baik antar-tetangga. Ia tak menggurui, melainkan bercerita pengalaman tentang bagaimana gotong royong bisa menjadi benteng terkuat menghadapi segala tantangan. "Kita ini saudara, Ndoro," katanya sambil menyesap kopi hitam. "Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Mari kita rembukan bareng.” Dari bincang santai itu, muncullah semangat baru untuk mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan ronda malam. Warga pun bergantian berbagi cerita—ada yang curhat soal tetangga yang jarang ikut kerja bakti, ada juga yang mengusulkan pembentukan grup WA khusus untuk saling kabar.
- Penguatan ikatan sosial – Babinsa menjadi jembatan antara warga yang mungkin belum saling kenal akrab.
- Kamtibmas terkendali – Dengan komunikasi intensif, isu-isu kecil bisa cepat diredam sebelum jadi masalah besar.
- Gotong royong kembali digiatkan – Warga berencana mengadakan kerja bakti mingguan membersihkan selokan dan jalan desa.
- Kedekatan teritorial – Kehadiran Babinsa di tengah warga menegaskan bahwa TNI bukan sekadar penjaga dari jauh, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gotong Royong: Kunci Keamanan Desa Sungai Danai
Warga pun menyambut hangat kehadiran 'kakak' Babinsa mereka. "Biar tambah akrab, Pak Siswanto janji datang setiap minggu," ujar Mak Sumi, seorang pedagang gorengan yang ikut duduk di lingkaran. Suasana kekeluargaan terasa sangat kental sepanjang dialog. Kehadiran TNI di tengah mereka seperti penegasan bahwa prajurit tidak hanya menjaga dari jauh, tetapi benar-benar hidup dan bernapas bersama masyarakat. Tak hanya soal keamanan, obrolan juga menyentuh soal pertanian dan pendidikan anak. Siswanto bahkan menawarkan diri untuk menjadi pembina pramuka dadakan di sekolah desa. Sinergi yang hangat ini diharapkan mampu menjadikan Desa Sungai Danai sebagai contoh desa yang harmonis dan penuh kepedulian. Dari segelas kopi dan sepiring pisang goreng, lahirlah kebersamaan yang sulit terkikis oleh zaman.
Di akhir perjumpaan, Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan karet. Warga pulang dengan senyum merekah, membawa oleh-oleh—bukan buah tangan, melainkan rasa aman dan kehangatan. Sertu Siswanto melambaikan tangan, berjanji akan kembali minggu depan. Mungkin dengan baju koko, atau sekadar baju kaos. Yang penting, hati terus menyatu. Begitulah cara Babinsa dan warga Desa Sungai Danai bersama-sama membangun desa yang teduh, di mana setiap warganya saling menjaga dan dirangkul dalam naungan gotong royong.