Di sebuah dusun kecil di Sumbawa Besar, saat mentari pagi belum sepenuhnya naik, para petani sudah bersiap menuju kebun. Jalan usaha tani yang menghubungkan ladang jagung mereka dengan pasar bukanlah jalan mulus beraspal, melainkan tanah berlumpur yang setiap musim hujan berubah menjadi kubangan rawa. Pernah membayangkan harus menenteng karung jagung seberat 50 kilogram di pematang sawah yang becek? Itulah keseharian mereka. Truk pengangkut hasil panen sering terperosok, membuat petani harus ekstra kerja keras menggotong hasil bumi. Namun di tengah peluh dan lelah itu, ada secercah harapan. Praka Budi, Babinsa dari Koramil Sumbawa Besar, tak mau tinggal diam melihat penderitaan warga binaannya.
Gotong Royong di Tengah Kebun: Babinsa dan Warga Bersatu
Pagi-pagi buta, suara cangkul dan sekop sudah terdengar dari ujung jalan usaha tani. Praka Budi bersama rekannya dari Koramil, ditambah puluhan pemuda dan petani setempat, bahu-membahu mengurug lubang, meratakan tanah, dan memadatkan permukaan. Keringat bercucuran di bawah terik matahari, tapi suasana tetap riang. Candaan soal lumpur yang mengenai seragam loreng Babinsa mengundang tawa renyah. “Ini bukan kerja paksa, ini panggilan hati,” ujar Praka Budi sambil menyeka peluh di dahinya.
Semangat gotong royong menyala seperti api unggun di malam hari. Warga tak hanya datang sebagai pekerja, mereka juga membawa makanan dan minuman untuk berbuka karena kebetulan berada di bulan puasa. Ada yang membawa nasi bungkus dari dapur rumah, ada pula yang menyuguhkan kelapa muda segar. Kebersamaan terasa begitu kental, seolah tidak ada sekat antara seragam loreng dan kaos oblong petani. Semua larut dalam ritme kerja yang sama: mengayunkan cangkul, mendorong gerobak tanah, dan saling menyemangati.
Jalan Mulus, Rezeki Lancar: Manfaat yang Dirasakan Petani
Setelah hampir dua hari penuh kerja keras, jalan sepanjang dua kilometer itu akhirnya mulus kembali. Lubang-lubang besar sudah rata, permukaan tanah dipadatkan dengan batu pecah dan kerikil yang diangkut secara sukarela. Kini truk pengangkut hasil panen bisa melaju tanpa khawatir terperosok. Para petani pun tersenyum lega. Berikut beberapa manfaat langsung yang mereka rasakan:
- Biaya transportasi turun drastis. Sebelumnya, sopir truk meminta ongkos ekstra karena jalan rusak. Kini tarif kembali normal, menghemat pengeluaran petani hingga puluhan ribu rupiah per perjalanan.
- Waktu tempuh lebih singkat. Perjalanan yang dulu butuh satu jam kini cukup 20 menit. Hasil panen bisa segera sampai ke tempat pengepul, menjaga kesegaran dan harga jual.
- Keselamatan terjamin. Risiko tergelincir atau kecelakaan akibat jalan berlubang berkurang drastis. Ibu-ibu yang ikut memanen juga lebih tenang saat mengendarai sepeda motor.
Pak Saidi, seorang petani jagung, tak kuasa menahan haru saat melihat jalan mulus. “Dulu setiap mau jual, saya harus bayar lebih ke sopir. Sekarang Alhamdulillah, ongkos hemat, waktu irit. Terima kasih Pak Babinsa yang sudah peduli sama kami,” ucapnya sambil menggenggam erat tangan Praka Budi. Baginya, perbaikan jalan ini bukan sekadar proyek, melainkan wujud nyata kedekatan TNI dengan rakyat di jalan usaha tani yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka.
Kisah ini mengingatkan kita semua bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Ketika Babinsa turun ke sawah dan warga membuka pintu dapur, tidak ada lagi jarak antara yang melayani dan yang dilayani. Semoga semangat gotong royong yang menyala di Sumbawa Besar ini menjadi teladan bagi desa-desa lain. Karena pada akhirnya, jalan mulus bukan hanya memperlancar rezeki, tapi juga menguatkan tali persaudaraan di antara kita semua.