Sore itu, suara riang anak-anak mengeja huruf terdengar dari sebuah teras rumah warga di desa binaan. Di bawah pohon rindang, lima anak duduk melingkar memegang buku sederhana. Yang memandu mereka bukan guru berseragam, melainkan seorang Babinsa dengan seragam hijau loreng yang sudah akrab di mata warga. Sertu Budi, begitu ia disapa, tengah sabar membimbing mereka menyusun kata demi kata. Bulir-bulir keringat di pelipisnya tak mengurangi senyum hangat yang mengembang di wajahnya. Suasana penuh keakraban itu menjadi pemandangan biasa setiap sore, dan anak-anak tampak antusias menunggu kedatangan beliau.
Sore yang Berbeda: Belajar Membaca di Bawah Pohon Rindang
Kegiatan ini bukan sekali dua kali. Setiap sore, usai membantu warga di kebun atau sekadar menyapa dari rumah ke rumah, Sertu Budi menyempatkan diri menjadi guru dadakan. Ia tahu betul bahwa sebagian anak desa masih tertinggal dalam hal literasi. Banyak yang belum lancar membaca karena orang tua mereka sibuk bekerja di ladang sejak pagi hingga petang. Ada pula orang tua yang merasa tidak mampu mengajari karena pendidikan mereka juga terbatas. Melihat kebutuhan itu, Sertu Budi tak tinggal diam. Dengan penuh kesabaran, ia menggunakan cara-cara yang menyenangkan. Kadang ia mengajak anak-anak bermain sambil belajar, kadang menyanyi bersama saat mengeja huruf. Suasana belajar pun terasa seperti bermain, jauh dari rasa takut. Para orang tua yang melihat dari jauh hanya bisa tersenyum haru. Mereka berharap anak-anaknya bisa sekolah lebih baik dan tidak putus di tengah jalan.
Lebih dari Tugas: Panggilan Hati Seorang Babinsa
Menurut Sertu Budi, pendidikan adalah kunci masa depan. Sebagai Babinsa, ia merasa tugasnya bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban wilayah. Lebih dari itu, program pembinaan teritorial (Binter) juga berarti ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, mulai dari hal yang paling dekat dengan warga. Mengajar anak desa membaca adalah salah satu bentuk nyata kedekatan TNI dengan rakyat. Baginya, setiap kemajuan dalam pendidikan anak-anak adalah kebanggaan tersendiri. Kegiatan kecil yang tulus ini membawa perubahan besar. Beberapa anak yang dulu selalu menunduk malu kini sudah berani membaca dengan suara lantang. Rasa percaya diri mereka tumbuh perlahan, dan semangat belajar semakin menyala. Berkat kesabaran Sertu Budi, terlihat banyak kemajuan yang menghangatkan hati:
- Anak-anak yang tadinya sulit membaca kini mulai mampu mengeja kata-kata sederhana dengan lafal yang jelas.
- Mereka yang dulu malu-malu kini antusias mengikuti setiap sesi belajar sore dan tak sabar menunggu kedatangan Sertu Budi.
- Orang tua merasa terbantu dan semakin percaya bahwa kehadiran Babinsa benar-benar membawa manfaat nyata bagi keluarga mereka.
Kisah Sertu Budi mengajarkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Di desa-desa seperti ini, kehadiran seorang Babinsa bukan sekadar petugas negara, melainkan bagian dari keluarga besar warga. Kedekatan ini menjadi bukti bahwa program teritorial tidak hanya soal keamanan, tapi juga tentang membangun masa depan bersama. Warga desa pun merasa semakin percaya bahwa TNI selalu hadir untuk mereka, bukan hanya dalam tugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semangat gotong royong dan kepedulian seperti ini terus menyala di setiap desa binaan, karena setiap anak berhak mendapat pendidikan dan masa depan yang lebih cerah.