Di tengah teriknya musim kemarau panjang, hamparan sawah di Desa Kedunggalar, Ngawi, mulai menguning tanda padi siap dipanen. Namun, bagi Pak Karto, seorang petani berusia 65 tahun, kegembiraan itu sempat bercampur kecemasan. Tenaga yang mulai terbatas dan waktu panen yang mendesak membuatnya khawatir hasil jerih payahnya selama berbulan-bulan tak bisa diangkut semua. Tapi, kecemasan itu sirna begitu melihat sosok Sertu Budi, Babinsa dari Koramil 0805/Ngawi, datang dengan sabit di tangan dan senyum ramah di wajah. Bukan sekadar memberi aba-aba, beliau langsung turun ke lumpur, memotong padi bersama, mengikatnya, dan mengangkut ke tempat perontokan. Kehadirannya bagaikan oase di tengah dahaga kegelisahan petani.
Tangan Kasar Penuh Lembut di Tengah Sawah
Sertu Budi tak hanya membantu secara fisik, tapi juga memberi semangat. Dengan gerakan yang cekatan, beliau menunjukkan bahwa Babinsa benar-benar dekat dengan rakyat. Pak Karto yang sudah renta tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Saya sangat terbantu. Sendirian saja sudah kewalahan. Dengan adanya Pak Babinsa, panen selesai lebih cepat dan hasilnya bisa segera dijual,” ujarnya sambil mengusap peluh di kening. Program pendampingan pertanian dari TNI ini memang rutin dilakukan, terutama saat petani kesusahan seperti di musim paceklik atau panen padi raya. Beberapa manfaat yang dirasakan warga antara lain:
- Tenaga tambahan untuk memanen dan mengangkut hasil panen.
- Pendampingan teknis pertanian dari Babinsa yang terlatih.
- Motivasi dan semangat gotong royong yang kembali hidup.
- Kedekatan emosional antara TNI dan warga desa.
Dari Sabit ke Kopi: Kedekatan yang Terjalin
Setelah lelah bekerja, Sertu Budi dan Pak Karto duduk bersama di pinggir sawah. Di tangan mereka, secangkir kopi panas menemani perbincangan hangat. Mereka tak hanya bicara soal hasil panen padi dan harga gabah, tapi juga tentang anak, cucu, dan mimpi-mimpi kecil untuk desa. Momen seperti inilah yang membuat program kedekatan teritorial TNI terasa nyata. Bukan sekadar instruksi dari atas, melainkan hubungan batin yang lahir dari kerja sama dan saling peduli. Pak Karto pun tersenyum, merasa tidak sendirian menghadapi kerasnya kehidupan petani. Di Ngawi, cerita seperti ini bukan hal langka; setiap musim panen, Babinsa selalu hadir membantu warga, menjadi jembatan antara pemerintah desa dan kebutuhan riil para petani.
Kisah di Desa Kedunggalar ini hanyalah salah satu bukti bahwa kehadiran Babinsa di Ngawi membawa dampak besar bagi para petani. Di tengah musim paceklik yang kerap membuat hati waswas, uluran tangan dan kebersamaan seperti ini membuat beban terasa lebih ringan. Semangat gotong royong yang dihidupkan kembali oleh TNI melalui program pertanian bukan hanya soal panen raya, tapi juga tentang menanam harapan dan memupuk rasa saling percaya. Dan ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Pak Karto tahu esok hari akan ada lagi cerita indah yang tertulis di sawah-sawah Ngawi. Gotong royong ini mengajarkan bahwa di balik setiap butir padi yang dipanen, ada tangan-tangan yang saling menguatkan—sebuah harmoni antara TNI dan rakyat yang tak lekang oleh zaman.