Setiap menjelang sore, suasana di sebuah kampung adat di Kecamatan Adonara, Flores Timur, berubah menjadi ramai oleh tawa ceria anak-anak. Di bawah rindangnya pohon beringin, Serda Fransiskus Sani, Babinsa yang bertugas di sana, dengan sabar menanti anak-anak SD yang datang sambil berlari-lari. Mereka bukan datang untuk bermain gawai, melainkan untuk belajar hal baru yang terasa istimewa: bermain gamelan Jawa dan menyanyikan lagu kebangsaan. Di tengah keterbatasan, suasana hangat itu menjelma menjadi ruang belajar yang penuh kekeluargaan.
Sore yang Hangat di Bawah Pohon Beringin
Pohon beringin besar itu seakan menjadi saksi bisu keakraban antara Babinsa dan anak-anak desa. Bukan razia atau kegiatan resmi yang dilakukan, melainkan obrolan ringan yang dikemas dalam pembelajaran. Serda Fransiskus Sani meminjam seperangkat gamelan Jawa dari sanggar seni di kecamatan, lalu mengajak anak-anak bermain bersama. Bagi anak-anak yang sehari-hari bermain di tanah dan alam sekitar, suara gamelan yang mengalun pelan adalah sesuatu yang baru dan membahagiakan.
Kegiatan ini tidak lepas dari keprihatinan Babinsa melihat anak-anak desa yang jarang tersentuh hiburan dan pendidikan musik. Dengan gaya khas seorang sahabat, Fransiskus menyapa mereka dengan hangat. "Anak-anak di sini jarang punya mainan, jadi saya kenalkan alat musik," ujarnya sambil tersenyum. Lewat gamelan, anak-anak belajar mengenal nada, kerja sama, dan tentu saja menumbuhkan kecintaan pada budaya dan tanah air. Semua berjalan santai, tanpa paksaan, dan penuh kegembiraan.
Gamelan dan Lagu Kebangsaan Menyapa Desa
Tak hanya gamelan, anak-anak juga diajarkan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Raya dan Berkibarlah Benderaku. Suara polos mereka bersahut-sahutan dengan alunan gamelan, menciptakan harmoni yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kegiatan ini menjadi media pendidikan karakter yang efektif, terutama dalam menanamkan semangat cinta tanah air sejak usia dini.
Kehadiran Babinsa di tengah anak-anak membawa manfaat yang besar. Beberapa di antaranya yang bisa dirasakan langsung oleh warga:
- Mengisi waktu luang anak-anak dengan kegiatan positif dan mendidik.
- Mengurangi ketergantungan anak-anak pada gawai yang semakin meresahkan.
- Menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu kebangsaan dan kesenian daerah.
- Mempererat hubungan kemanunggalan TNI dengan masyarakat desa.
- Menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan di kampung.
Kegiatan ini pun tidak hanya dinikmati anak-anak. Ibu-ibu desa ikut bergembira dan sesekali menyiapkan jajanan tradisional untuk teman-teman kecil mereka. Ada kue lapis, pisang goreng, atau sekadar minuman hangat yang dibuat dengan senang hati. Semua dilakukan ikhlas, sebagai wujud dukungan terhadap kegiatan yang membawa kebaikan bersama. Tak heran, setiap sore menjadi momen yang dinanti-nantikan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan modern, kegiatan sederhana ini mengingatkan kita semua bahwa kebersamaan dan kepedulian adalah kunci pendidikan yang sesungguhnya. Serda Fransiskus Sani tidak hanya mengajar gamelan atau lagu kebangsaan, ia sedang menanamkan harapan di hati anak-anak Flores Timur. Lewat sentuhan hangat dan kesabaran, ia membuktikan bahwa Babinsa adalah bagian dari keluarga besar warga desa.
Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menginspirasi kita semua. Sebab, di bawah rindangnya pohon beringin itu, ada masa depan bangsa yang sedang dipupuk dengan penuh cinta. Dan ketika senja tiba, anak-anak pulang dengan senyum bahagia, membawa bekal ilmu dan kehangatan yang tak akan pernah mereka lupakan. Dari Adonara, dari Flores Timur, kita belajar bahwa pendidikan dan kebersamaan selalu menemukan jalannya untuk mencerahkan desa.