Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti lereng Merapi ketika suara palu dan obrolan ramai mulai terdengar dari sebuah dusun kecil. Di tengah hamparan sawah dan deretan pohon kelor, para warga berkumpul membawa peralatan sederhana. Bukan untuk bekerja biasa, melainkan untuk membangun rumah singgah—sebuah tempat yang kelak menjadi penyelamat saat Gunung Merapi menunjukkan amarahnya. Di antara mereka, dua seragam loreng tampak akrab membaur. Serma Budi dan Serda Slamet, Babinsa dari Koramil setempat, sudah seperti keluarga sendiri bagi warga.
Bergotong Royong di Kaki Gunung yang Berjaga
Sejak subuh, semangat gotong royong begitu terasa. Serma Budi dan Serda Slamet terlihat mengangkat kayu bersama bapak-bapak, sementara sebagian ibu-ibu menyiapkan kopi dan jajan pasar di dapur darurat. Suara tawa dan canda mewarnai setiap tarikan napas, seolah beban berat menjadi ringan karena dilakukan bersama. Pak Karto, ketua RT setempat, tak kuasa menyembunyikan harunya. "Kami ingin punya tempat yang aman jika sewaktu-waktu Merapi meletus. Dengan bantuan Babinsa, pembangunan ini berjalan cepat karena semua saling membantu," ujarnya sambil menyeka keringat.
Rumah singgah yang dibangun ini bukan sekadar bangunan biasa. Ia akan menjadi posko darurat saat erupsi, tempat berlindung sementara bagi warga, sekaligus tempat istirahat bagi para pendaki dan petani yang setiap hari beraktivitas di kawasan rawan bencana. Berkat tangan-tangan yang saling bahu-membahu, dinding demi dinding mulai berdiri.
- Posko darurat bagi warga saat terjadi erupsi Merapi
- Tempat istirahat untuk pendaki dan petani di lereng gunung
- Simbol kebersamaan antara TNI dan rakyat di tengah keterbatasan
Lebih dari Sekadar Bangunan, Ada Kehangatan yang Ditanam
Namun, kegiatan pagi itu belum selesai. Usai mengangkat batu dan menyusun bata, Serma Budi dan Serda Slamet mengajak warga berkumpul di bawah tenda darurat. Mereka memberikan penyuluhan tentang mitigasi bencana—cara evakuasi mandiri, mengenali tanda-tanda alam, dan pentingnya kesiapsiagaan. Warga mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, lalu bertanya tentang hal-hal yang selama ini mengganjal di pikiran mereka.
Kedekatan antara prajurit dan warga terjalin erat, bukan hanya saat ada acara resmi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Babinsa hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai tetangga yang peduli. Mereka hafal nama anak-anak, tahu siapa yang sedang sakit, dan selalu siap sedia saat warga butuh. Inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat—sebuah hubungan yang dirasakan langsung di tengah dinginnya lereng Merapi.
Menjelang siang, matahari semakin tinggi. Rumah singgah itu mulai terlihat kokoh, tetapi yang lebih kokoh adalah rasa kebersamaan yang tumbuh di antara semua orang yang hadir. Pak Karto tersenyum, memandangi bangunan kecil itu seperti memandang anaknya sendiri. Mungkin nanti, saat Merapi beristirahat dengan tenang, rumah singgah ini akan menjadi saksi bahwa warga desa tidak pernah sendirian—selalu ada Babinsa dan semangat gotong royong yang menyala.
Semoga rumah singgah ini tidak hanya menjadi tempat berteduh dari bencana, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di lereng Merapi, tidak ada yang merasa sendiri. Selalu ada tangan yang siap membantu, selalu ada hati yang tulus menguatkan. Karena di desa, kebersamaan bukan sekadar kata—ia adalah cara hidup yang diwariskan dari satu hati ke hati lainnya.