Program & Bantuan Trending

Warga Lereng Merapi Diajak Manfaatkan Lahan Tidur untuk Ketahanan Pangan

Warga Lereng Merapi Diajak Manfaatkan Lahan Tidur untuk Ketahanan Pangan

Di lereng Merapi, lahan tidur bekas erupsi dihidupkan kembali melalui ajakan hangat Babinsa dan penyuluh pertanian. Warga desa bergotong royong mengelola kebun percontohan, menanam cabai, tomat, dan kacang-kacangan, sehingga ketahanan pangan kembali terjaga.

Di lereng Gunung Merapi, sunyi menyelimuti hamparan lahan yang lama tak tersentuh. Abu vulkanik hasil erupsi dahsyat telah membeku, meninggalkan kenangan getir sekaligus menyimpan potensi yang luar biasa. Namun, di balik kelabu itu, ada kesuburan yang menunggu untuk dibangunkan. Suatu hari, para Babinsa dan penyuluh pertanian datang dengan langkah ringan, bukan membawa perintah tegas, melainkan ajakan hangat yang menggema di balai desa. “Tanah kita subur, jangan disia-siakan,” ujar mereka. Kalimat sederhana itu begitu membekas di hati warga yang selama ini ragu. Mereka ingat masa kejayaan pertanian—tomat, cabai, dan kacang-kacangan yang dulu tumbuh subur sebelum erupsi. Ajakan penuh kekeluargaan itu pun mulai membuka hati, mengubah lahan tidur menjadi ladang harapan.

Lahan Tidur yang Kini Bersemi

Langkah pertama dimulai dengan kebun percontohan yang dikelola langsung oleh Babinsa bersama para pemuda desa. Bersama-sama, mereka membersihkan lahan, menggemburkan tanah, dan menanam bibit pilihan. Hasilnya tak butuh waktu lama. Dalam hitungan minggu, hamparan hijau mulai menghiasi lereng yang tadinya kelabu. Mata para ibu-ibu berbinar melihatnya. Mereka tak mau ketinggalan. Dengan semangat yang kembali membara, mereka turun ke ladang membawa cangkul dan ember, mengolah tanah yang lama tak tersentuh. Suasana seperti kembali ke zaman dahulu—saat bekerja bersama adalah kebahagiaan tersendiri. Program ketahanan pangan ini bukan sekadar seremonial; setiap warga yang bergabung mendapat pendampingan penuh, dari pengolahan tanah hingga perawatan, plus bibit unggul gratis. Berikut jenis bibit yang disalurkan:

  • Cabai rawit dan cabai keriting—nilai jual tinggi di pasar, jadi andalan ekonomi keluarga.
  • Tomat segar—mudah ditanam dan cepat berbuah, cocok untuk pemula.
  • Kacang panjang dan kacang tanah—selain bergizi, kacang-kacangan ini juga menyuburkan tanah secara alami.

Semangat Gotong Royong Kembali Membara

Seiring waktu, kebun kolektif itu tumbuh subur. Keberhasilan tidak hanya terlihat dari tanaman yang menjulur hijau, tetapi juga dari senyum warga yang mulai mengecap hasil panen pertama. Sebagian hasil dijual ke pasar terdekat, sebagian lagi dinikmati untuk kebutuhan keluarga sendiri. Bagi warga desa di lereng Merapi, ini lebih dari sekadar ketahanan pangan —ini adalah kebangkitan harga diri dan kepercayaan diri. Mereka tidak lagi menjadi penonton di tanah sendiri, melainkan aktor utama yang menghidupkan kembali desanya. Program pemberdayaan ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat dan niat baik, lahan tidur pun bisa dibangunkan. Gotong royong yang dulu sempat memudar kini kembali menjadi napas kehidupan, menyatukan tua dan muda dalam satu irama kerja.

Di sudut-sudut ladang, suara tawa dan obrolan hangat terdengar setiap hari. Warga saling berbagi cerita sambil mencangkul, saling mengingatkan saat tanaman mulai berbunga. Mereka sadar, dari abu vulkanik yang dulu menyisakan duka, kini tumbuh tunas-tunas harapan. Kebersamaan ini adalah modal paling berharga. Lereng Merapi tak lagi sunyi; kini gemuruh semangat gotong royong yang mengisi ruang. Dan di setiap helai daun yang merekah, ada doa dan keyakinan bahwa tanah ini tak akan pernah benar-benar tidur selama kita masih bergandeng tangan.

ketahanan pangan pemanfaatan lahan tidur pertanian pemberdayaan masyarakat
Terkait
  • Topik: ketahanan pangan, pemanfaatan lahan tidur, pertanian, pemberdayaan masyarakat
  • Tempat: Gunung Merapi

Artikel terkait