Pernahkah Anda membayangkan hidup tanpa aliran listrik selama puluhan tahun? Bagi warga Desa Oksibil, di Distrik Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua, itu adalah kenyataan sehari-hari. Malam hari hanya diterangi lampu minyak tanah yang redup, sementara anak-anak harus belajar dengan cahaya temaram. Namun, semua berubah sejak TNI hadir melalui program Bhakti TNI Papua. Kini, listrik desa menyala 24 jam penuh, membawa secercah harapan baru yang menerangi setiap sudut kampung terpencil ini.
Gotong Royong Menembus Medan Berat
Pagi itu, di tengah dinginnya udara pegunungan, Kepala Desa Markus Kurita (52) berdiri di depan rumahnya sambil menatap panel surya yang terpasang di atap. Matanya berkaca-kaca. "Saya sudah tua, baru sekarang melihat lampu terang di rumah," ujarnya dengan suara bergetar. Perjuangan untuk menghadirkan energi ini tidaklah mudah. Prajurit dari Kodim 1702/Jayawijaya bersama warga setempat harus mendaki bukit terjal dan menyeberangi sungai deras untuk membawa panel-panel surya ke tengah desa. Selama dua minggu penuh, mereka bergotong royong, bahu-membahu, keringat bercampur dengan semangat untuk membawa perubahan. Kini, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kW telah berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjuangan kolektif warga dan TNI.
Manfaat yang Menerangi Kehidupan Sehari-hari
Sejak pertama kali aliran listrik menyala pada malam hari, suasana desa berubah total. Bukan hanya lampu yang terang, tetapi juga semangat dan aktivitas warga yang kian hidup. Program listrik desa ini telah membawa banyak manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat:
- Anak-anak bisa belajar di malam hari tanpa harus khawatir kehabisan minyak tanah atau cahaya yang redup. Mereka kini bisa membaca buku dan mengerjakan PR dengan nyaman.
- Ibu-ibu rumah tangga kini bisa menjahit menggunakan mesin jahit listrik, membuka peluang usaha kecil-kecilan untuk menambah penghasilan keluarga.
- Keamanan desa meningkat karena lampu jalan yang terang membuat malam tidak lagi gelap gulita, mengurangi risiko kecelakaan dan tindak kriminal.
Selain itu, TNI juga memberikan pelatihan perawatan PLTS kepada 10 pemuda setempat. Mereka diajari cara membersihkan panel surya, mengganti baterai, dan memperbaiki komponen kecil. Ini memastikan program berkelanjutan dan mandiri, sehingga warga Pegunungan Bintang yang terpencil ini tak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan luar.
Pada malam pertama lampu listrik menyala, seluruh warga desa berkumpul di lapangan. Mereka berdoa bersama-sama, mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wajah-wajah yang tadinya penat kini berseri-seri. Kehangatan kebersamaan terasa begitu kental, seolah-olah setiap rumah tidak lagi terpisah oleh jarak, melainkan disatukan oleh cahaya yang sama. Program Bhakti TNI Papua ini membuktikan bahwa kedekatan teritorial bukan sekadar slogan, melainkan nyata dalam gotong royong yang menghidupkan harapan di pelosok negeri.