Malam itu, Desa Wae Rii di Manggarai Timur, NTT, tidak lagi diselimuti gelap gulita. Untuk pertama kalinya, lampu listrik menyala terang di rumah-rumah warga, masjid, dan balai desa. Pak Hermanus, seorang petani kopi yang puluhan tahun menggeluti lahan perbukitan, tak kuasa menahan haru saat saklar lampu pertama kali ditekan. Cahaya yang memenuhi ruang keluarganya membuat matanya berkaca-kaca. “Baru kali ini saya merasakan listrik,” ujarnya lirih. “Dulu, hanya lampu minyak yang jadi andalan. Mahal, berasap, dan sering bikin sesak napas. Sekarang, malam kami benar-benar terang.”
Dari Gelap Menuju Terang: Cerita Wae Rii
Kedatangan listrik surya dari TNI Angkatan Darat menjadi jawaban atas kerinduan panjang warga desa terpencil ini. Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ini memasang 50 unit panel surya di rumah-rumah, masjid, dan balai desa. Bukan cuma untuk menyalakan lampu, energi surya ini juga menghidupkan mesin penggiling kopi milik Pak Hermanus. “Dulu, kami harus menumbuk kopi secara manual dan butuh waktu seharian. Sekarang, dengan mesin listrik, prosesnya cepat. Hasil panen bisa langsung diolah, tak perlu menunggu lama,” ceritanya dengan senyum bangga.
Perubahan ini benar-benar terasa dalam keseharian warga. Anak-anak kini bisa belajar di malam hari dengan cahaya yang cukup, ibu-ibu bisa menjahit tanpa takut asap minyak tanah, dan warga bisa berkumpul di balai desa dengan suasana yang hangat dan terang. Program ini membawa manfaat langsung yang menyentuh banyak sisi kehidupan:
- Sebanyak 50 rumah tangga, masjid, dan balai desa kini terang benderang setiap malam.
- Mesin penggiling kopi bertenaga listrik mempercepat pengolahan hasil panen dan meningkatkan nilai jual kopi warga.
- Para pemuda desa dilatih merawat panel surya agar bisa mandiri, tanpa tergantung bantuan dari luar.
- Program ini menjadi bagian dari upaya TNI membawa energi ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
TNI dan Rakyat: Bersama Menjaga Energi
Program listrik surya ini bukan sekadar proyek penerangan. Danrem 161/Wira Sakti, Brigjen TNI Agus, menegaskan bahwa ini adalah wujud kedekatan TNI dengan rakyat. “Kami ingin memastikan setiap desa, meski terpencil, punya akses energi yang layak,” katanya saat peresmian. Semangat gotong royong pun kembali hidup. Warga bergantian menjaga kebersihan panel surya, memastikan sinar matahari bisa diserap maksimal. Para pemuda desa juga sudah dilatih khusus untuk perawatan panel, mulai dari membersihkan hingga mengganti komponen sederhana.
“Kami diajari cara kerja panel, cara membersihkan, dan cara memperbaiki kalau ada masalah. Jadi nanti, kalau ada kerusakan, kami bisa atasi sendiri,” ujar Yohanes, salah satu pemuda yang antusias mengikuti pelatihan. Kemandirian energi ini menjadi harapan baru bagi desa terpencil seperti Wae Rii. Mereka tidak lagi bergantung pada lampu minyak yang mahal dan tidak sehat. Dengan listrik surya, malam-malam mereka berubah menjadi waktu yang produktif dan penuh kehangatan.
Kisah Pak Hermanus dan tetangganya ini adalah bukti nyata bahwa kehadiran TNI di pelosok bukan hanya soal keamanan, tapi juga soal membawa terang bagi kehidupan. Dari lampu minyak ke cahaya surya, dari gelap ke terang—perubahan sederhana yang membawa dampak besar. Di balik setiap panel yang berkilau di atap, ada harapan baru: anak-anak bisa belajar lebih giat, petani bisa lebih produktif, dan desa bisa lebih mandiri. Semoga energi ini terus menyala, dan semangat gotong royong semakin menguatkan kita semua. Karena terang bukan hanya tentang listrik, tapi juga tentang kebersamaan yang menghangatkan hati.