Di sudut Nias Selatan, ada desa kecil bernama Hiliweto yang selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan. Setiap hari, warga harus menyeberangi Sungai Oyo dengan rakit bambu yang reyot. Saat musim hujan, arus sungai menjadi ganas dan sering memakan korban. Tapi kini, semua mulai berubah. Lewat program teritorial TNI AD, sebuah jembatan gantung kokoh mulai dibangun di desa terpencil ini. Warga yang dulu ketakutan kini mulai tersenyum lega.
Sungai Oyo: Saksi Bisu Perjuangan Warga Hiliweto
Sungai Oyo bukan sekadar aliran air. Ia adalah batas antara isolasi dan harapan. Selama bertahun-tahun, anak-anak harus menyeberanginya untuk pergi ke sekolah. Ibu-ibu membawa hasil kebun dengan rakit untuk dijual ke pasar. Namun bahaya selalu mengintai. “Anak saya dulu pernah hampir hanyut. Saya setiap hari deg-degan kalau dia berangkat sekolah,” kenang Ibu Rina (45), seorang ibu rumah tangga yang rumahnya tak jauh dari tepi sungai. Kini, pembangunan jembatan gantung sepanjang 120 meter sedang dikerjakan oleh TNI bersama masyarakat. Program ini merupakan bagian dari pembangunan desa yang digagas melalui pendekatan teritorial.
Berikut adalah beberapa manfaat langsung yang akan dirasakan warga Hiliweto:
- Akses aman ke pasar dan sekolah tanpa harus takut air bah
- Warga dilatih menjadi tukang sehingga punya keterampilan baru yang bisa dipakai untuk proyek lain
- Konektivitas desa terpencil dengan dunia luar semakin terbuka
- Rasa kebersamaan dan gotong royong makin kental antara TNI dan warga
Gotong Royong Membangun Masa Depan
Kapten Infanteri Prasetyo, Dansatgas TNI di daerah itu, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik. “Kami latih warga menjadi tukang, sehingga mereka punya keterampilan baru. Investasi jangka panjang,” ujarnya sambil mengawasi para warga yang sibuk mengikat tali baja. Semangat gotong royong terasa kuat di lokasi. Para pemuda desa bergantian membantu, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan untuk para pekera. Jembatan ini ditargetkan rampung dalam tiga bulan, dan warga sudah tak sabar menunggunya.
Ibu Rina tak kuasa menahan air mata saat melihat tiang pertama jembatan mulai berdiri. “Sekarang saya tak perlu khawatir lagi. Anak saya bisa sekolah dengang aman,” katanya sambil serayum. Kisah ini adalah bukti bahwa TNI hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk mendekatkan hati rakyat di pelosok Nias. Pembangunan desa tidak selalu harus dengan megah; kadang cukuop dengan jembatan gantung yang menghubungkan masa depan.