Di lereng hijau Kabupaten Garut, ada sebuah desa kecil bernama Sukamulya yang selama puluhan tahun hidup dalam keterasingan. Sungai deras yang membelah desa menjadi penghalang utama bagi warga untuk mengakses pasar dan puskesmas. Setiap hari, mereka harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberang menggunakan rakit bambu, terutama saat musim hujan tiba. Namun, semua itu kini berubah. Sebuah jembatan gantung sepanjang 80 meter telah diresmikan oleh prajurit TNI dari Satuan Tugas Teritorial, membawa harapan baru bagi seluruh warga desa.
Gotong Royong yang Menyatukan Hati
Pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan wujud nyata kedekatan antara TNI dan warga desa. Sersan Dua Agus, salah satu anggota TNI yang terlibat, bercerita dengan mata berbinar bahwa proses pembangunan dilakukan secara gotong royong selama tiga bulan penuh. "Kami bekerja bersama warga, dari pagi hingga sore. Rasanya seperti keluarga besar yang sedang membangun rumah untuk anak cucu," ujarnya. Setiap hari, puluhan warga sukarela membantu mengangkut material, sementara para ibu menyediakan makanan dan minuman untuk para pekerja. Kebersamaan ini menjadi pemersatu yang tak ternilai harganya.
- Akses ke pasar: Warga kini bisa pergi ke pasar tanpa berlama-lama, hanya dengan berjalan kaki melewati jembatan yang kokoh.
- Anak-anak sekolah: Anak-anak tidak perlu lagi khawatir terlambat atau terjebak arus sungai saat berangkat ke sekolah.
- Petani dan hasil panen: Petani dapat mengangkut hasil panen dengan gerobak, sehingga pendapatan mereka meningkat karena tidak lagi bergantung pada rakit yang terbatas.
- Pelayanan kesehatan: Akses ke puskesmas menjadi lebih cepat dan aman, terutama bagi warga yang sakit atau ibu hamil yang membutuhkan pertolongan darurat.
Program Kedekatan yang Membangun Desa
Jembatan gantung di Desa Sukamulya adalah bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), yang fokus pada pembangunan daerah tertinggal dan terpencil. Program ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menanamkan rasa kebersamaan dan kemandirian di kalangan warga. Dengan hadirnya jembatan ini, desa-desa lain di sekitar Sukamulya juga mulai terinspirasi untuk bermimpi lebih besar. Warga setempat kini merasa lebih dekat dengan dunia luar, dan optimisme tumbuh di setiap sudut desa.
Hari ini, saat matahari terbenam di balik perbukitan, warga Desa Sukamulya berdiri di atas jembatan gantung yang baru. Mereka tersenyum, saling berpelukan, dan berbisik syukur. Jembatan ini bukan hanya penghubung fisik, tapi juga jembatan hati antara TNI dan masyarakat. Dari sini, harapan baru lahir—bahwa dengan gotong royong dan kedekatan, tidak ada lagi desa yang merasa sendiri. Dan di setiap langkah yang melintasi jembatan ini, ada cerita kebersamaan yang akan terus dikenang oleh anak cucu kelak.