Di lereng Gunung Bromo yang megah, ada desa kecil bernama Wonokitri, salah satu desa terpencil di Kabupaten Probolinggo yang tengah berubah wajah. Dulu, untuk mencapai dusun-dusun di sana, warga harus menapaki jalan setapak berbatu yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau. Hasil bumi seperti bawang dan sayur mayur seringkali menumpuk di gudang karena sulit diangkut keluar. Namun kini, suasana itu mulai berganti. Pembangunan jalan sepanjang 5 kilometer yang digagas oleh TNI dari Satuan Tugas Teritorial sejak dua bulan lalu telah membuka keterisolasian desa ini. Jalan yang dulunya hanya mimpi, kini terbentang seperti pita harapan di lereng Bromo.
Dulu Setapak Berbatu, Kini Jalan Harapan di Lereng Bromo
Jalan baru ini bukan sekadar aspal dan batu. Ia adalah urat nadi kehidupan ekonomi warga. Ibu-ibu petani seperti Suratmi (42) kini bisa tersenyum lega. Dulu, ongkos angkut bawang per kilogram mencapai Rp5.000—biaya yang menggerogoti keuntungan. Sekarang, setelah jalan mulai bisa dilalui kendaraan roda empat, biaya itu turun drastis menjadi hanya Rp1.000 per kilogram. “Dulu saya harus memutar otak supaya hasil panen tidak busuk. Sekarang, tinggal naik colt, langsung ke pasar Probolinggo. Terima kasih Bapak TNI,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Manfaat lain yang dirasakan warga antara lain:
- Biaya transportasi hasil tani turun hingga 80%, meningkatkan pendapatan keluarga.
- Akses ke pasar kota menjadi lebih cepat dan mudah, sehingga sayuran dan bawang lebih segar saat dijual.
- Anak-anak bisa bersepeda ke sekolah tanpa takut tergelincir di jalan berbatu.
- Warga sakit kini lebih cepat dibawa ke puskesmas dengan mobil.
Gotong Royong TNI dan Warga, Membangun Jalan dan Kebersamaan
Program ini merupakan bagian dari TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-120 yang digagas oleh Komando Daerah Militer setempat. Komandan Satgas, Mayor Inf. Andi Pratama, menjelaskan bahwa semangat gotong royong menjadi kunci utama. “Kami tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun kebersamaan. Jalan ini akan terus kami rawat bersama warga hingga benar-benar kokoh. Setiap tetes keringat prajurit dan warga adalah bukti bahwa kita bisa saling menguatkan,” ujarnya saat mengecek progres pembangunan.
Setiap hari, puluhan prajurit dan warga bergantian mencangkul, mengangkut batu, dan meratakan aspal. Tak jarang mereka beristirahat sambil menikmati kopi panas dan pisang goreng buatan ibu-ibu desa. Suasana kehangatan itu terasa nyata, seperti keluarga besar yang merawat rumahnya sendiri. Dari atas bukit, terlihat anak-anak bersepeda riang di jalan baru itu. Tawa mereka bergema di antara hembusan angin sejuk Bromo. “Dulu kami hanya bisa bermain di halaman sempit. Sekarang, kami bisa bersepeda sampai ke dusun sebelah,” kata Rudi (10) dengan senyum lebar. Jalan ini tidak hanya membuka akses ekonomi, tetapi juga membuka cakrawala impian anak-anak desa. Mereka kini bisa membayangkan suatu hari nanti akan menjual hasil pertanian sendiri ke kota, atau bahkan menjadi prajurit TNI yang membangun desa.
Di balik bentangan aspal di lereng Bromo, ada cerita tentang tangan-tangan yang saling menggenggam, tentang kerja keras dan harapan yang ditanam bersama. Pembangunan jalan ini mungkin bagi sebagian orang adalah proyek fisik biasa, tetapi bagi warga Wonokitri, ia adalah janji bahwa mereka tidak sendirian. Kebersamaan antara TNI dan warga menjadi bukti bahwa perubahan besar selalu lahir dari langkah kecil yang dilakukan bergotong royong. Dan ketika matahari sore menyinari jalan baru itu, warga desa tersenyum, karena mereka tahu: dari jalan inilah kehidupan yang lebih baik akan terus berjalan.