Pagi itu, di Desa Bunut Baok, suara obrolan warga bercampur dengan hangatnya matahari Lombok Tengah. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2026 resmi menyapa delapan desa di Lombok Tengah, dan warga menyambutnya dengan tangan terbuka serta hati penuh harap. Anggaran lebih dari Rp1 miliar disiapkan, bukan untuk sekadar membangun beton, melainkan untuk memangkas isolasi dan merawat gotong royong yang sudah mengakar di kampung-kampung.
Kemanunggalan TNI dan Rakyat: Lebih dari Sekadar Beton
Prajurit Kodim 1620 Lombok Tengah turun dengan seragam lapangan, tapi yang mereka bawa bukan hanya perlengkapan kerja. Ada tekad untuk membangun jalan usaha tani yang selama ini menjadi impian para petani, memperbaiki akses air bersih lewat sumur bor, hingga membangun MCK yang layak untuk warga. Setiap gorong-gorong yang dipasang dan setiap jengkal jalan yang dirapikan adalah cerita tentang memudahkan anak-anak ke sekolah dan mempercepat hasil bumi sampai ke pasar.
- Jalan usaha tani yang menghubungkan kebun dan sawah ke rumah warga;
- Sumur bor untuk air bersih yang selama ini sulit diakses;
- MCK layak untuk menunjang kesehatan dan martabat warga;
- Gorong-gorong dan drainase agar musim hujan tak lagi jadi ancaman.
Kolonel Inf Ruben Ratu Rihi dari Korem 162/Wira Bhakti menyebut program ini wujud kemanunggalan yang nyata. Meski seragam dan pakaian warga berbeda, tujuan mereka satu: membangun desa bersama. Infrastruktur yang berdiri memang penting, tetapi yang lebih penting adalah rasa memiliki warga desa. Saat tangan prajurit dan warga menyekop tanah secara bergantian, di situlah desa sedang dibangun kembali dari dalam.
Obrolan Hangat di Sela Pekerjaan: Belajar Bersama dari Hati ke Hati
Tak semuanya berlangsung di bawah terik matahari. Setelah pekerjaan selesai, warga dan prajurit duduk bersama di teras rumah, tertawa, dan saling berbagi cerita. Penyuluhan hukum dan bela negara disampaikan dengan santai, bukan menggurui. Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, mengingatkan bahwa momen ini adalah penguatan sumber daya manusia dan kolaborasi. Masyarakat bukan sekadar penonton, melainkan pemain utama dalam pembangunan desanya sendiri.
Lewat TMMD di Lombok Tengah ini, semua belajar bahwa pembangunan bukan milik pemerintah atau TNI semata, melainkan milik bersama. Gotong royong adalah kekuatan lama yang kembali dihidupkan. Semua infrastruktur yang hadir di delapan desa, mulai dari Bunut Baok, Gemel, Aik Berik, sampai desa-desa lainnya, sejatinya adalah jembatan antara harapan dan kenyataan. Saat senja tiba dan pekerjaan dihentikan sementara, warga pulang dengan kelelahan yang manis, karena mereka tahu esok hari masih ada tangan-tangan yang bersatu membangun negeri dari halaman rumah sendiri. Begitulah warna Indonesia yang kuat, dimulai dari desa.