Di tengah terik matahari yang membakar Kampung Dugu-Dugu, Lanny Jaya, tanah Papua, warga bergulat dengan bencana kekeringan yang tak kunjung reda. Sungai-sungai yang biasanya deras kini menyusut, ladang-ladang mengering, dan perut mulai keroncongan di mana-mana. Namun di saat penderitaan seolah tiada ujung, datanglah secercah harapan dari seragam hijau tentara. Prajurit Satgas Yonif 742/SWY Koops TNI Habema, dengan semangat pantang menyerah, menembus derasnya arus sungai untuk menjangkau warga yang sudah lama haus akan uluran tangan.
Derasnya Sungai, Tebalnya Kasih
Perjalanan menuju Kampung Dugu-Dugu bukanlah perkara mudah. Derasnya arus sungai bagai penghalang yang enggan ditaklukkan, tapi para prajurit tak gentar. Dengan hati penuh ketulusan, mereka mengarungi air dingin dan bebatuan licin hanya untuk tiba di tengah-tengah warga yang tengah berjuang melawan rasa khawatir. Rasa lelah dan basah kuyup bak sirna saat mereka disambut senyum simpul dan tatapan penuh harap dari para mama dan bapa di kampung itu. Inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat – tak ada jarak, yang ada hanya kebersamaan.
Telinga dan Stetoskop: Dua Alat Pendekat Hati
Kehadiran mereka bukan hanya soal jaminan keamanan. Jauh lebih dalam dari itu, mereka membawa stetoskop yang siap memeriksa, dan telinga yang siap mendengar. Tim medis dengan telaten memeriksa kesehatan warga satu per satu, mendiagnosa keluhan yang bertumpuk akibat musim kering.
- Pemeriksaan umum gratis – anak-anak, ibu hamil, dan lansia mendapat perhatian khusus; tekanan darah, demam, dan penyakit kulit yang lazim di musim kemarau ditangani dengan obat yang dibawa dari jauh.
- Obat-obatan dasar – persediaan obat verbal dan salep diberikan langsung kepada yang membutuhkan, tanpa biaya sepeser pun.
- Komsos atau komunikasi sosial – yang tak kalah penting adalah kesediaan prajurit duduk berjam-jam mendengarkan keluh kesah warga. Seperti Mama Lusiana Talenggen, ia curhat tentang keluarganya yang belum tersentuh bantuan pangan. Sementara Bapa Yafet dengan raut ragu bercerita tentang rencana pengungsian karena cadangan makanan yang makin menipis.
Sentuhan non-fisik dari komsos prajurit inilah yang mampu menyembuhkan sebagian luka batin warga. Dengan mendengar, TNI menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penjaga keamanan, melainkan saudara yang ikut merasakan perih dan sesak dalam kesulitan. Tokoh masyarakat setempat, Pendeta Talinus Talenggen, menyambut baik langkah ini. Ia berharap TNI dapat lebih sering berkunjung. "Kehadiran bapak-bapak TNI memberikan ketenangan dan kekuatan baru bagi kami yang sedang mencari jalan keluar dari bencana ini," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah di Lanny Jaya ini mengingatkan kita semua bahwa di balik bencana kekeringan dan krisis pangan, masih ada tangan-tangan yang tak lelah mengulurkan bantuan. TNI hadir bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar warga Papua. Mereka datang dengan hati, mendengar dengan sabar, dan membantu dengan ikhlas. Semoga kemanunggalan seperti ini terus bersemi di tanah Papua, dan semoga warga Kampung Dugu-Dugu segera merasakan rezeki dari langit dan bumi yang kembali ramah. Bersama kita kuat, saling gandeng melewati masa-masa sulit ini.